Pengamat: Nilai Jual Prabowo di Titik Terendah

Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang MSi menyatakan nilai jual Prabowo Subianto untuk Pilpres 2024 pada titik terendah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 November 2019  |  13:26 WIB
Pengamat: Nilai Jual Prabowo di Titik Terendah
Prabowo Subianto - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang MSi menyatakan nilai jual Prabowo Subianto untuk Pilpres 2024 pada titik terendah.

Kondisi ini disebabkan karena Prabowo Subianto yang hari ini sudah masuk dalam gerbong PDI Perjuangan, tidak lebih dari perilaku politik bunglon, kata Ahmad Atang di Kupang, Jumat (8/11/2019).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan fenomena politik nasional akhir-akhir ini, mulai ada rancangan untuk Pilpres 2024, dan bagaimana dengan posisi Prabowo.

Pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin belum berlangsung lama. Namun, perubahan konstelasi politik di level nasional berubah begitu cepat. Beberapa politisi bahkan sudah mulai merancang pasangan untuk Pilpres 2024 kelak.

Kini, kalangan politisi telah mewacanakan mantan rival Jokowi di dua kali pilpres Prabowo Subianto berpasangan dengan Puan Maharani.

"Menurut saya, Prabowo yang hari ini sudah masuk dalam gerbong PDI Perjuangan tidak lebih dari perilaku politik bunglon. Di sini Prabowo memiliki cacat politik secara permanen, sehingga harga jual untuk Pilpres 2024 berada pada posisi terendah," katanya.

Mengenai politik Islam, dia mengatakan, setelah Prabowo Subianto masuk dalam gerbong PDI Perjuangan, maka peluang politik Islam lebih sulit jika figur yang didorong adalah Anies Baswedan.

Karena itu, masuknya Nasdem justru memperkuat dukungan terhadap Anies, yang bukan saja dari partai Islam modernis namun dari partai nasionalis seperti Nasdem, katanya.

Nasdem akan memperlebar sayap politik dengan merangkul partai lain bergabung setelah pertemuan petinggi Nasdem-PKS dan meninggalkan PDI Perjuangan dan Gerindra.

Paling tidak, selain PKS, masih ada PAN dan Demokrat yang kemungkinan besar menjadi gerbong Nasdem selanjutnya untuk mengusung Anies Baswedan, katanya.

Selain itu, Nasdem juga akan memperkuat dukungan nonpartai seperti NU yang secara psikologis ditinggalkan oleh PDIP dan Jokowi.

"NU tidak mendapatkan peran signifikan dalam pemerintahan Jokowi, dan ini akan menjadi pintu masuk bagi Nasdem untuk melakukan komunikasi politik, katanya menjelaskan. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pks, nasdem, prabowo subianto

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top