Dua Mantan Pegawai Twitter Dituding Jadi Mata-Mata, Jual Data Pengguna ke Pejabat Saudi

Dua bekas pegawai Twitter dituding AS melakukan aksi mata-mata. Bersama seorang pria asal Arab Saudi keduanya dituduh membobol data pengguna pribadi dan memberikannya kepada pejabat Saudi dengan imbalan uang. Hal itu terungkap dari pengaduan yang diajukan kepada mereka, Rabu (6/11/2019).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 07 November 2019  |  13:49 WIB
Dua Mantan Pegawai Twitter Dituding Jadi Mata-Mata, Jual Data Pengguna ke Pejabat Saudi
Ilustrasi-Logo cetak 3D untuk Twitter terlihat dalam ilustrasi gambar yang dibuat di Zenica, Bosnia dan Herzegovina pada 26 Januari 2016. - Reuters

Bisnis.com, WASHINGTON - Dua bekas pegawai Twitter dituding AS melakukan aksi mata-mata. Bersama seorang pria asal Arab Saudi keduanya dituduh membobol data pengguna pribadi dan memberikannya kepada pejabat Saudi dengan imbalan uang. Hal itu terungkap dari pengaduan yang diajukan kepada mereka, Rabu (6/11/2019).

Ali Alzabarah dan Ahmad Abouammo, yang pernah bekerja di Twitter, dan Ahmed Almutairi, yang waktu itu bekerja untuk keluarga kerajaan Arab Saudi, menghadapi tuduhan bersekongkol dengan Kerajaan Arab Saudi tanpa mendaftar sebagai agen asing, demikian pengaduan yang diajukan terhadap mereka.

Berdasarkan pengaduan, Abouammo kerap mengakses akun Twitter milik kritikus terkemuka keluarga kerajaan Arab Saudi pada awal 2015. Misalkan, ia dapat melihat alamat email dan nomor telepon yang terhubung dengan akun tersebut. Ia juga mengakses akun kritikus Saudi lainnya untuk mendapatkan informasi pribadi.

"Informasi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan melacak pengguna Twitter yang mempublikasi unggahan ini," demikian siaran baru Departemen Kehakiman.

Arab Saudi, sekutu utama AS dalam memerangi Iran, dihujani kritikan oleh Negara Barat atas catatan HAM mereka, termasuk pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi tahun lalu dan keterlibatannya dalam perang menghancurkan di Yaman.

Almutairi dituduh bertindak sebagai perantara pemerintah Arab Saudi dan pegawai Twitter.

Abouammo ditangkap di Seattle, Washington, sedangkan dua lainnya berada di Arab Saudi, menurut departemen tersebut.

Berdasarkan pengaduan, dua pria itu diberikan imbalan uang tunai dan hadiah lainnya, seperti jam mewah untuk informasi yang diberikan.

Kedutaan besar Arab Saudi tidak langsung menanggapi saat dimintai komentar.

Twitter mengatakan bahwa pihaknya berterima kasih kepada FBI dan Departemen Kehakiman AS.

"Kami mengakui aktor-aktor jahat akan berusaha dan mengacaukan layanan kami," kata pihak Twitter melalui pernyataan.

"Kami memahami risiko luar biasa yang dihadapi oleh banyak pengguna Twitter untuk berbagi perspektif mereka dengan dunia dan meminta mereka yang berkuasa bertanggung jawab," lanjut pihak Twitter.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, twitter, mata-mata, Jamal Khashoggi

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top