KPK Sayangkan Tudingan Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan Rekayasa

Menurut Febri, Novel Baswedan jelas-jelas adalah korban penyiraman air keras yang hingga saat ini pelakunya belum ditemukan pihak kepolisian.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 07 November 2019  |  08:26 WIB
KPK Sayangkan Tudingan Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan Rekayasa
Juru bicara KPK Febri Diansyah. - Bisnis/Ilham Budhiman

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyayangkan pihak-pihak yang menuding penyidik senior KPK Novel Baswedan melakukan rekayasa atas kasus penyiraman air keras.

Bahkan, tak jarang pihak-pihak tersebut membuat opini di media sosial yang menyudutkan Novel Baswedan bahwa kasusnya telah dibuat-buat untuk kepentingan tertentu. 

"Beberapa waktu belakangan ini kami sangat menyayangkan dan rasanya ada orang-orang yang bertindak di luar rasa kemanusiaan kita," kata Juru bicara KPK Febri Diansyah, Rabu (6/11/2019) malam.

Menurut Febri, Novel Baswedan jelas-jelas adalah korban penyiraman air keras yang hingga saat ini pelakunya belum ditemukan pihak kepolisian. Setelah penyiraman air keras itu, Novel memang dibawa ke rumah sakit di Singapura untuk menjalani perawatan.

Febri juga mengatakan bahwa tim gabungan bentukan Kepolisian telah memaparkan karakter air keras yang disiramkan ke wajah Novel Baswedan. 

"Nah sekarang bagaimana mungkin Novel yang dituduh melakukan rekayasa tersebut? Dia adalah korban. Jangan sampai korban menjadi korban berulang kali karena berbagai isu hoax, kebohongan," ujar dia.

Sementara itu, Febri percaya pada pihak Kepolisian soal laporan kader PDIP Dewi Ambarwati Tanjung ke Polda Metro Jaya terkait tudingan penyebaran berita bohong atas penyiraman air keras yang dilakukan Novel.

"Kita percaya kepolisian pasti akan menghadapi laporan itu secara profesional. Jadi tidak mungkin setiap laporan harus naik ke penyidikan kalau buktinya tidak kuat," katanya.

Adapun narasi yang menyebut Novel tak mengalami luka setelah kejadian itu telah dibantah sendiri oleh Novel melalui kuasa hukumnya Alghiffari Aqsa.

Sebelumnya, beredar video di media sosial yang memperlihatkan Novel duduk di kursi roda sambil didorong petugas rumah sakit di Singapura. Cuplikan video itu diambil dari hasil liputan salah satu media televisi nasional.

Sejumlah pihak menuding Novel merekayasa penyiraman air keras tersebut lantaran tidak terlihat luka bekas siraman air keras baik dibagian pipi maupun matanya.

Menurut Novel yang disampaikan pada Alghiffari, kejadian itu sekitar bulan April atau Juli 2017. Saat itu tim dokter memang belum mengambil tindakan operasi osteo odonto keratoprosthesis (OOKP).

"Saat itu belum dilakukan operasi OOKP pada mata kiri saya karena Prof Donald Tan sedang upayakan dengam stem cell dengan cara di pasang selaput membran plasenta pada kedua mata saya untuk menumbuhkan jaringan yang sudah mati," kata Novel.

Hanya saja, upaya itu ternyata tidak mengalami perbaikan sampai Agustus 2017. Adapun dengan waktu enam bulan setelah kejadian, kedua matanya saat itu diperkirakan tak akan bisa melihat lagi.

Novel menuturkan jika orang-orang melihat mata kirinya saat itu seperti tidak sakit, tidak merah dan bening seperti kelereng, justru sebetulnya sel di matanya sudah banyak yang mati dan fungsi melihatnya sangat kurang.

"Maka yang dilakukan operasi OOKP pada mata kiri yang rusaknya lebih parah. Jadi wajar saja orang awam mengira saya tidak sakit," tuturnya.

Dia mengaku sampai saat ini kerap didampingi oleh kawan-kawannya di KPK mengenai perkembangan pengobatan matanya dari hari ke hari. 

"Dan setiap update dari dokter disampaikan ke pimpinan," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
KPK, novel baswedan

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top