Perusahaan di Seluruh Dunia Terpukul Aksi Protes Hong Kong

Aksi unjuk rasa pro-demokrasi yang melanda Hong Kong selama lima bulan terakhir terungkap telah memukul perusahaan-perusahaan khususnya yang menjual barang-barang konsumen.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 06 November 2019  |  11:30 WIB
Perusahaan di Seluruh Dunia Terpukul Aksi Protes Hong Kong
Aksi protes di Hong Kong - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi unjuk rasa pro-demokrasi yang melanda Hong Kong selama lima bulan terakhir terungkap telah memukul perusahaan-perusahaan khususnya yang menjual barang-barang konsumen.

Pernah didaulat sebagai salah satu surga bagi pemburu berbagai barang impor global berkelas macam tas mewah, Hong Kong kini dijauhi para pembeli dan turis karena aksi protes yang tak kunjung usai.

Aksi protes juga mengakselerasi peralihan bisnis dari Hong Kong oleh perusahaan-perusahaan global seiring dengan berkurangnya turis dari China, segmen turis terbesar untuk kota itu.

“[Kondisi] Hong Kong telah sangat menantang [dan] pariwisata telah terjatuh,” ujar Andre Hoffmann, Vice Chairman perusahaan perawatan kulit L'Occitane pada 22 Oktober.

“Tapi kita melihat pertumbuhan yang sangat kuat dari China, Korea, dan Macau, jadi saya pikir sebagian dari bisnis sedang beralih ke negara-negara lain di kawasan ini,” tambahnya, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Menurut sejumlah eksekutif perusahaan, apapun hasil dari aksi protes itu, pukulan terhadap peran Hong Kong sebagai pusat konsumsi di kawasan tersebut kemungkinan akan berlangsung lama.

Prospek bisnis Hong Kong terus menurun di tengah jeratan resesi yang dialami wilayah ini akibat perlambatan perdagangan global dan pergolakan sosial politik dalam negeri.

Pada Selasa (5/11/2019), indeks manajer pembelian (purchasing managers' index/PMI) yang dirilis oleh IHS Markit untuk ekonomi keseluruhan Hong Kong dilaporkan turun menjadi 39,3 pada Oktober 2019, hasil terburuk sejak krisis keuangan pada November 2008.

 “Keresahan politik yang sedang berlangsung dan dampak dari ketegangan perdagangan membuat aktivitas bisnis jatuh dengan laju paling tajam sejak survei ini dimulai lebih dari 21 tahun yang lalu. Bukti anekdotal mengungkapkan bahwa sektor ritel dan pariwisata tetap sangat terpengaruh,” tulis Bernard Aw, ekonom utama di IHS, dalam rilisnya.

“Ketika pesanan baru terus turun tajam, dipimpin oleh rekor penurunan permintaan dari China daratan, perusahaan menjadi semakin pesimistis tentang prospeknya,” tambah Aw.

Ekonomi Hong Kong sendiri dilaporkan berkontraksi tajam pada kuartal III/2019. Aksi protes telah menghancurkan sektor ritel dan pariwisata kota yang dikuasai China itu, dan hingga saat ini tidak terlihat tanda-tanda segera mereda.

Hong Kong pun jatuh ke dalam resesi untuk pertama kalinya pada kuartal ketiga akibat aksi protes anti-pemerintah yang makin intens dan perang dagang AS-China yang berkepanjangan.

“Bisnis-bisnis tidak akan kembali begitu saja ketika aksi protes berakhir,” tutur Paul Edgecliffe-Johnson, Chief Financial Officer di InterContinental Hotels Group Plc.

Jean-Jacques Guiony, Chief Financial Officer LVMH, konglomerat barang-barang mewah, menyuarakan pandangan serupa.

“Hong Kong mungkin akan membayar konsekuensi untuk situasi saat ini, tidak hanya dalam hal volume bisnis, tetapi juga dalam hal profitabilitas,” ujar Guiony.

HOTEL RUGI

Peritel dan operator hotel mengalami pukulan terparah ketika bentrokan antara pengunjuk rasa dan kepolisian membuat denyut nadi kota Hong Kong hampir selalu berhenti setiap akhir pekan.

Penjualan ritel berdasarkan nilai melorot 18,3 persen pada September, dibandingkan dengan penurunan 22,9 persen pada Agustus.

Menurut data Hong Kong Tourism Board, tingkat okupansi hotel mencapai 63 persen pada September, 23 poin persentase di bawah periode yang sama tahun sebelumnya.

“Protes di Hong Kong berdampak pada traffic dan menyebabkan beberapa toko kami tutup sementara,” ungkap Harmit J Singh, Chie Financial Officer raksasa denim Levi Strauss & Co.

Presiden dan CEO Crocs Inc., produsen sepatu karet, Andrew Rees pun menuturkan bahwa toko-toko perusahaan di kota itu sangat dipengaruhi oleh segala sesuatu yang terjadi.

JUMLAH TURIS TURUN

Sementara itu, penjualan produk-produk seperti obat-obatan, makanan bayi dan kebutuhan sehari-hari lainnya juga terpukul oleh penurunan jumlah turis China yang datang ke Hong Kong untuk menjadi re-seller barang-barang yang mereka beli.

Kedatangan turis China daratan ke Hong Kong dilaporkan anjlok 35 persen pada September dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah tekanan ini, taipan-taipan properti Hong Kong, yang cengkeramannya pada kehidupan ekonomi dan kekuatan politik di Hong Kong disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang memperburuk aksi protes, justru dipandang tak banyak menawarkan dukungan kepada para peritel.

“Sebagai tenan di Hong Kong, kami telah sangat berupaya untuk mendapatkan pengurangan [harga] sewa,” ucap Hoffmann dari L'Occitane.

“Kami akan terus berurusan dengan mereka untuk mencoba dan melihat dukungan apa yang dapat mereka berikan kepada kami, meskipun saat ini tampak tidak terlalu efektif,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, demo Hong Kong

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top