Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Uni Eropa Usulkan Perpanjangan Brexit hingga 31 Januari 2020

Dilansir melalui Bloomberg, penawaran tersebut menyatakan bahwa Inggris dapat meninggalkan Uni Eropa lebih awal, pada 30 November atau 31 Desember, jika kedua belah pihak telah meratifikasi kesepakatan tepat waktu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 28 Oktober 2019  |  11:23 WIB
Ilustrasi brexit - Reuters
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Menurut draft deklarasi yang akan dibahas oleh utusan Uni Eropa dan Inggris di Brussels, blok ekonomi tersebut mengusulkan untuk memperpanjang batas waktu Brexit 3 bulan hingga 31 Januari 2020.

Dilansir melalui Bloomberg, penawaran tersebut menyatakan bahwa Inggris dapat meninggalkan Uni Eropa lebih awal, pada 30 November atau 31 Desember, jika kedua belah pihak telah meratifikasi kesepakatan tepat waktu.

Adapun, penawaran ini mengecualikan segala potensi negosiasi ulang perjanjian Brexit dan mengharuskan Inggris untuk memenuhi kewajibannya terhadap Uni Eropa secara penuh selama perpanjangan waktu berlangsung.

Para diplomat Uni Eropa akan melakukan pertemuan hari ini, Senin (28/10/2019), pada pukul 10:00 di Brussels untuk membahas proposal tersebut. Mungkin saja, seperti hasil pertemuan Jumat (25/10/2019), tidak semua negara akan setuju.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak upaya Uni Eropa untuk menunda Brexit selama 3 bulan, sebagai gantinya dia mengajukan penundaan 1 bulan hingga 30 November.

"Blok itu mengatakan ingin menyelesaikan masalah perpanjangan waktu Brexit tanpa mengadakan KTT darurat, keputusan akhir akan diumumkan pada hari Selasa," seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (28/10/2019).

Pertemuan para delegasi Uni Eropa dan Inggris akan berlangsung beberapa jam sebelum politisi Inggris memberikan suara terhadap tawaran Perdana Menteri Boris Johnson untuk sebuah pemilihan umum awal pada 12 Desember.

Johnson tampaknya akan gagal mendapatkan suara mayoritas dua pertiga di parlemen yang diperlukan, setelah pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn menegaskan bahwa dia tidak akan mendukung rencana tersebut kecuali ancaman no-deal Brexit sepenuhnya dihapus.

Pekan lalu Johnson dengan enggan meminta penundaan tiga bulan hingga akhir Januari 2020 kepada Brussels, setelah majelis rendah Parlemen menolak untuk menyetujui kesepakatan Brexit baru yang telah dia setujui dengan Uni Eropa.

"Jika Inggris masih berada di Uni Eropa setelah 31 Oktober, blok itu akan meminta London untuk menunjuk seorang kandidat untuk eksekutif baru Komisi Eropa," ujar beberapa, yang berbicara dengan syarat anonim.

Komisi Eropa baru, yang terdiri dari satu wakil dari setiap negara anggota, akan mengambil alih kepemimpinan pada 1 Desember.

Lebih dari 3 tahun setelah Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa, negara dan parlemennya terpecah atas bagaimana, kapan dan bahkan apakah Inggris benar-benar akan melepaskan diri dari blok tersebut, dan masalah ini telah memicu krisis politik yang meningkat di London.

Bagi Uni Eropa, kehilangan anggota yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah sebuah kemunduran bersejarah.

Ke-27 anggotanya itu sangat frustrasi dengan perceraian yang tak tertahankan, yang menghabiskan waktu, energi, dan modal politik yang seharusnya digunakan untuk kepentingan penguatan ekonomi serta menangani keamanan dan tantangan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Brexit
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top