Imigrasi Warga Inggris ke Eropa Capai Rekor Tertinggi di tengah Ketidakpastian Brexit

Sebuah studi yang dilakukan oleh akademisi di Oxford University dan Berlin Social Science Center melaporkan bahwa angka emigrasi dari Inggris ke Uni Eropa kini berada pada tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  16:26 WIB
Imigrasi Warga Inggris ke Eropa Capai Rekor Tertinggi di tengah Ketidakpastian Brexit
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjelang tenggat waktu Brexit pada 31 Oktober, jumlah warga negara Inggris yang meninggalkan negaranya dan memilih untuk menetap di benua Eropa terus bertambah.

Sebuah studi yang dilakukan oleh akademisi di Oxford University dan Berlin Social Science Center melaporkan bahwa angka emigrasi dari Inggris ke Uni Eropa kini berada pada tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Diperkirakan, ada sekitar 84.000 warga negara Inggris yang beremigrasi ke Uni Eropa sepanjang 2019, jauh lebih tinggi dari 58.000 pada 2015, sebelum Referendum Brexit, dan 46.000 pada 2012.

Dilansir melalui Bloomberg, data migrasi internasional yang dilaporkan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), setelah Referendum Brexit, jumlah naturalisasi warga negara Inggris di Prancis, Belgia, dan Swedia meningkat tajam.

Di Jerman, jumlahnya lebih tinggi. Pada 2018, ada 6.640 warga negara Inggris yang memperoleh paspor Jerman.

Sebuah laporan yang dirilis oleh The Independent menyebutkan bahwa jumlah emigran dari Inggris ke Uni Eropa telah mengalami peningkatan drastis sejak 2012, dan lonjakan terjadi sejak Referendum 2016.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang Inggris yang tinggal di Eropa dan sebagian besar dari mereka adalah masyarakat usia kerja.

“Ketidakpastian seputar Brexit telah menyebabkan banyak orang memilih untuk mengepak barang-barang mereka,” kata Daniel Auer, penulis studi dan migrasi Berlin Social Science Center, dikutip melalui The Independent, Rabu (23/10/2019).

Para penulis studi terkait angka emigrasi ini mengatakan bahwa mereka menggunakan data berdasarkan statistik imigrasi nasional untuk membangun gambaran imigrasi yang lebih akurat antara Inggris dan Uni Eropa, daripada menggunakan survei tradisional yang memiliki margin error lebih besar.

Pemerintah Inggris berencana untuk mengakhiri pergerakan orang secara bebas (free movement of people), yang diperkirakan berlanjut hingga akhir masa transisi Brexit.

Jika no-deal Brexit berhasil dihindari, periode transisi ditetapkan sampai dengan akhir 2020, tetapi dapat berlanjut hingga Desember 2022 jika ada ketentuan perpanjangan.

Hak warga negara untuk warga negara Uni Eropa di Inggris dan warga negara Inggris di Uni Eropa telah menjadi masalah utama dalam pembicaraan Brexit.

Koordinator Brexit Uni Eropa, Guy Verhofstadt, menyampaikan bahwa semua masalah yang dihadapi oleh warga negara EU27 di Inggris perlu diselesaikan sebelum persetujuan dapat diberikan untuk perjanjian Brexit baru.

Untuk mencegah skandal imigrasi lain, Verhofstadt mengajukan beberapa tuntutan, salah satu di antaranya adalah tidak ada warga yang dideportasi dari Inggris jika mereka kehilangan batas waktu untuk mendapatkan status menetap.

Dua pekan lalu, warga negara Inggris yang tinggal di Uni Eropa menuliskan surat kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan memperingatkan bahwa pernyataan yang disampaikan para menterinya telah menempatkan masa depan mereka dalam risiko yang lebih besar.

Uni Eropa telah mengatakan bahwa mereka akan memperlakukan migran Inggris dengan cara yang sama bagaimana otoritas Inggris memperlakukan warga negaranya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top