Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

28 Perusahaan China Masuk Daftar Hitam AS 

Pemerintah Amerika Serikat memasukkan 28 perusahaan China ke dalam "daftar hitam" karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur di provinsi Xinjiang.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  10:09 WIB
Beberapa pekerja berjalan di luar pagar lokasi yang secara resmi disebut sebagai pusat edukasi vokasional di Dabancheng, Xinjiang, Wilayah Otonomi Uighur, China, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Thomas Peter
Beberapa pekerja berjalan di luar pagar lokasi yang secara resmi disebut sebagai pusat edukasi vokasional di Dabancheng, Xinjiang, Wilayah Otonomi Uighur, China, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah Amerika Serikat memasukkan 28 perusahaan China ke dalam "daftar hitam" karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur di provinsi Xinjiang.

Ke-28 perusahaan itu sekarang berada dalam Daftar Entitas yang berarti mereka tidak bisa membeli produk dari perusahaan AS tanpa persetujuan  Washington.

Perusahaan yang menjadi sasaran kebijakan ini termasuk salah satu produsen peralatan pengawasan terbesar di dunia. Pemerintah China belum mengomentari keputusan AS tersebut.

Sebuah dokumen Departemen Perdagangan AS menyebutkan perusahaan yang dimasukkan ke daftar hitam "terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan penganiayaan" seperti dikutip BBC.com, Selasa (8/10/2019).

Kelompok-kelompok HAM mengatakan Beijing melakukan persekusi berat terhadap warga Uighur yang sebagian besar merupakan Muslim di kamp-kamp penahanan. China menyebut kamp-kamp tersebut sebagai "pusat pelatihan kejuruan" untuk memerangi ekstremisme.

Hikvision, Dahua Technology, dan Megvii Technology ada di antara delapan kelompok komersial dalam Daftar Entitas tersebut. Semua perusahaan tersebut berspesialisasi dalam teknologi pengenalan wajah. Hikvision adalah salah satu produsen peralatan pengawasan terbesar di dunia.

Kali ini bukan pertama kalinya AS menerapkan larangan perdagangan pada perusahaan China. Mei lalu, pemerintahan Trump menambahkan raksasa telekomunikasi Huawei ke dalam Daftar Entitas karena kekhawatiran seputar keamanan produk-produknya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku minoritas uighur perang dagang AS vs China
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top