Kualitas Udara Pekanbaru, Palangkaraya, dan Jambi Berangsur Membaik

Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), konsentrasi debu polutan PM10 di Pekanbaru pada pukul 10.00 tercatat sebesar 52,88 mikrogram/m³. Angka tersebut sudah di bawah ambang batas normal PM10 yang diperbolehkan, yakni 150 mikrogram/m³.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 26 September 2019  |  12:48 WIB
Kualitas Udara Pekanbaru, Palangkaraya, dan Jambi Berangsur Membaik
Ilustrasi-Tim gabungan sedang memadamkan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Kualitas udara kota Pekanbaru, Riau, berangsur membaik pada Kamis pagi (26/9/2019).

Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), konsentrasi debu polutan PM10 di Pekanbaru pada pukul 10.00 tercatat sebesar 52,88 mikrogram/m³. Angka tersebut sudah di bawah ambang batas normal PM10 yang diperbolehkan, yakni 150 mikrogram/m³.

Angka ini menunjukkan kualitas udara di wilayah yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan tersebut berada dalam kategori sedang (51-150 mikrogram/m³). Partikulat (PM10) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer).

Berdasarkan pantauan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatra, kualitas udara Pekanbaru sejak 12 September 2019 berada dalam status berbahaya.

Selain Pekanbaru, kualitas udara kota Jambi juga membaik. Konsentrasi PM10 kota tersebut berada di angka 34,70 mikrogram/m³. Artinya, kualitas udara di Jambi berada dalam kategori baik (0-50 mikrogram/m³).

Sementara itu, kualitas udara Palangkaraya, Kalimantan Tengah juga berangsur membaik, meski masih dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi PM10 Palangkaraya berada di angka 238,26 mikrogram/m³ atau tidak sehat (151-250 mikrogram/m³)

Kemarin, Rabu (25/9), Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan bahwa titik api, serta kebakaran hutan dan lahan telah berkurang signifikan setelah operasi modifikasi cuaca dilakukan. Hal itu ditambah dengan hujan yang turun di sejumlah titik karhutla dalam beberapa hari terakhir.

“Kami melakukan operasi modifikasi cuaca dengan harapan turun hujan, dan alhamdulillah itu tercapai, sehingga titik api tinggal 1.129 titik pada 24 September 2019, dari yang sebelumnya 3.869 titik pada 22 September 2019, dan 3.322 titik pada 23 September 2019,” katanya dalam keterangan resmi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kabut Asap, Karhutla

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top