Outsourcing Model Pekerjaan di Masa Depan

Pendidik sekaligus pendiri organisasi Semua Guru Semua Murid Najeela Shihab menyebut outsourcing adalah model pekerjaan masa depan yang hadir karena kebutuhan yang terus berubah mengikuti zaman.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 23 September 2019  |  15:03 WIB
Outsourcing Model Pekerjaan di Masa Depan
Najeela Shihab, pendidik sekaligus pendiri organisasi Semua Murid Semua Guru di Gedung Kemendikbud pada Senin (23/9/2019). JIBI/Bisnis - Ria Theresia Situmorang

Bisnis.com, JAKARTA - Pendidik sekaligus pendiri organisasi Semua Guru Semua Murid Najeela Shihab menyebut outsourcing adalah model pekerjaan masa depan yang hadir karena kebutuhan yang terus berubah mengikuti zaman. 

"Kalau kita bicara tentang generasi Z itu skill-nya diluar apa yang kita berikan di sekolah. Dunianya berubah soal pekerjaan. Pekerjaan untuk mereka saat ini dengan pekerjaan di masa depan itu beda sekali," ungkap Najeela di Gedung Kemendikbud pada Senin (23/9/2019). 

Najeela menyebut kurikulum pendidikan hanya menyiapkan anak untuk menjadi tenaga kerja spesifik sementara kebutuhan kerja nantinya akan lebih dinamis. 

"Kita itu pemikirannya tetap melakukan pekerjaan yang sama setiap hari terutama saya yang jadi guru dari lulus jadi guru. Seumur hidup saya akan jadi pendidik. Anak-anak kita adalah generasi yang akan berganti pekerjaan belasan kali dalam hidupnya karena itu skill yang paling dibutuhkan adalah adaptability,"sambung wanita lulusan Psikologi Universitas Indonesia tersebut. 

Dia menggarisbawahi outsourcing akan menjadi model pekerjaan di masa depan sehingga belum waktunya untuk menghapuskan model regulasi tersebut.

Hal ini akan berdampak pada pola belajar anak generasi Z yang harus menguasai banyak hal.

"Sebagian besar orang nantinya akan stay di pekerjaan dalam periode yang tidak tetap. Habis itu, dia harus belajar untuk profesi yang baru, karena kebutuhan organisasi pun jarang sekali yang membutuhkan skill yang sama dalam 10 tahun atau 20 tahun ke depan," katanya.

Wanita yang akrab dipanggil Ela tersebut mengatakan hal tersebut menyebabkan lulusan SMK acap kali kalah saing dengan lulusan SMA yang mempelajari berbagai dasar bidang ilmu selama 3 tahun mengenyam pendidikan. 

"Tingkat pengangguran SMK lebih tinggi daripada tingkat pengangguran di SMA, bukan tentang technical skill-nya tapi memang pelajaran normatif yang seringkali dianggap nggak penting di SMK sesungguhnya sama pentingnya di SMA," katanya. 

"Pendidikan nasional kita sekarang hanya menyiapkan anak kita untuk keterampilan yang sangat spesifik sementara yang dibutuhkan adalah adaptasi yang baik, pemecahan masalah yang baik, kemampuan untuk kolaborasi dan berkomunikasi, itu yang dibutuhkan perusahaan. Technical skill-nya itu bahkan bisa dipelajari setelah mereka ada disitu (lingkungan kerja)," tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
outsourcing, smk

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top