Di Negara Ini, Semua Orang Ingin Menanam Ganja

Tujuannya adalah untuk mendapatkan sepotong pangsa pasar ganja medis global yang diperkirakan akan mencapai nilai antara US$14 miliar dan US$50 miliar selama lima tahun ke depan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 September 2019  |  14:07 WIB
Di Negara Ini, Semua Orang Ingin Menanam Ganja
Ilustrasi. Seorang pria mencium tanaman ganja di Pameran Ganja di Provinsi Buriram, Thailand, Jumat (19/4/2019). - Reuters/Prapan Chankaew

Bisnis.com, JAKARTA – Pernah bekerja sebagai pegawai negeri, Jane Sevdinski dan seorang temannya kini menginvestasikan lebih dari 1 juta euro atau sekitar Rp15,4 miliar untuk menanam ganja di empat rumah kaca besar.

Seorang mantan instruktur karate, Zlatko Keskovski, malah sudah selangkah lebih maju. Fasilitas yang dimilikinya dipenuhi pekerja berpakaian medis untuk merawat bunga-bunga ganja yang tumbuh di bawah lampu neon.

Mungkin ini adalah salah satu model ekonomi yang tak lazim, tetapi orang-orang itu merupakan bagian dari rencana untuk mengubah sebuah bekas republik Yugoslavia bernama Makedonia Utara menjadi negara dengan petani-petani ganja.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan sepotong pangsa pasar ganja medis global yang diperkirakan akan mencapai nilai antara US$14 miliar dan US$50 miliar selama lima tahun ke depan.

Entah itu mantan polisi atau pengacara, apapun profesinya, semua orang sepertinya ingin ambil bagian dalam industri ini.

Sejak 2016, lebih dari dua lusin perusahaan telah memperoleh perizinan. Kementerian Kesehatan Makedonia Utara saat ini sedang memproses 20 permohonan lain.

“Kami pikir ini akan menjadi bisnis yang menguntungkan,” ujar Sevdinski, seperti dilansir Bloomberg. Sejauh ini, dia dan rekannya telah menghabiskan 700.000 euro dan akan menghabiskan nilai yang sama untuk menjalankan bisnis.

“Dalam sekitar satu setengah tahun kami berharap akan mendapatkan keuntungan,” tambahnya.

Pertanyaannya adalah apakah ambisi tersebut cocok dengan realita yang dialami negara berpopulasi 2 juta orang itu?

Sejak perpecahan Yugoslavia, ekonominya telah bergantung pada ekspor tembakau, buah-buahan dan sayuran, juga suku cadang mobil. Masih belum ada undang-undang yang mengizinkan ekspor ganja medis, terlepas dari dukungan politik lintas-partai dan pemerintah setempat.

Ada pula isu korupsi. Wilayah Balkan sudah menjadi rute transit untuk obat-obatan terlarang. Ada kemungkinan ganja akan berakhir di pasar gelap, terutama tanpa saluran hukum untuk industri yang sedang berkembang.

Transparency International menempatkan Makedonia Utara di posisi 93 dalam Indeks Persepsi Korupsi, sejajar dengan Kosovo, Panama dan Mongolia.

Perdana Menteri Zoran Zaev menjadi salah satu sosok di balik dorongan berkembangnya ganja, ketika Makedonia Utara mencoba untuk menempa jalannya di pasar global dan bahkan bergabung dengan Uni Eropa setelah menyelesaikan perselisihan politik dengan Yunani tahun lalu.

“Jika kita ingin meningkatkan ekonomi di Makedonia Utara, ganja adalah cara untuk meningkatkannya,” tutur Menteri Kesehatan Venko Filipce. Negara ini diketahui termasuk yang termiskin di Eropa, dengan rata-rata upah bulanan sebesar US$450.

Saat ini, undang-undang negara tidak mengizinkan penanam ganja melakukan apa yang mereka butuhkan untuk menghasilkan uang, yakni mengekspor bunga kering ganja.

Perusahaan-perusahaan berlisensi memang diizinkan untuk menumbuhkan ganja medis dan mengekstrak minyak, yang dapat diekspor. Namun hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar mengekstraksi minyak.

Perusahaan milik Keskovski, NYSK Holdings, adalah yang pertama mendapatkan perizinan. Menurutnya, mimpi untuk menjadi pusat pertumbuhan ganja bergantung pada dorongan meloloskan undang-undang untuk memungkinkan ekspor. Masalahnya, pemerintah tampak telah kehilangan momentum.

"Jika undang-undang tersebut tidak diloloskan, industri ini akan mati,” ujar pria berusia 49 tahun ini. Namun dia yakin, bisnisnya akan tetap bertahan tanpa masalah.

Kostadin Dukovski, yang mengepalai sebuah asosiasi petani ganja, mengatakan permasalahan untuk industri yang masih baru ini, seperti biasa, adalah uang.

Pemerintah berusaha untuk mengenakan pajak sebelum bisnis diizinkan turun, sementara banyak pendatang baru tidak memiliki investasi ataupun pengetahuan.

"Mereka berpikir bahwa dengan uang murah mereka dapat melakukan sesuatu yang besar," ungkap Dukovski, yang pernah bertugas di kementerian dalam negeri.

“Namun investasi yang serius diperlukan untuk membuatnya berjalan. Masalahnya bukan untuk menjadi besar, tetapi adalah apa yang harus dilakukan dengan produk itu,” terangnya.

Risikonya kemudian adalah bisnis itu bisa dijual secara ilegal. Stok bunga dan minyak kering saat ini yang siap untuk ekspor diperkirakan mencapai nilai sekitar 60 juta euro.

Satu orang yang dikenal tak memiliki masalah dengan uang untuk memenuhi ambisinya adalah Slave Ivanovski, seorang jutawan yang meraup kekayaan dari perdagangan gas alam di Balkan, industri konstruksi dan makanan.

Setelah 16 tahun menjadi salah satu pengekspor sayuran dan domba terbesar di Makedonia Utara, ia beralih ke ganja medis.

Investasi Ivanovski sejauh ini disebut telah mencapai puluhan juta euro sejak 2017. Perusahaannya, Oaza Alkaloidi, mempekerjakan 45 orang di fasilitas baru.

“Sebenarnya kami melakukan ini juga untuk membantu negara kami karena tidak memiliki cara untuk menghasilkan uang. Saya akan memperoleh modal itu kembali. Ini adalah bisnis terbaik di dunia,” ucap Ivanovski.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ganja

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top