Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-gara Asap dari Indonesia, Penerbangan di Malaysia Terganggu dan Sekolah Ditutup

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menembus wilayah Negara Bagian Johor, Malaysia menyebabkan kegiatan penerbangan terganggu.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 16 September 2019  |  07:54 WIB
Nelayan menepikan perahunya, di antara kabut asap, di Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/9/2019). Nelayan setempat mengaku terganggu aktivitas melaut akibat kabut asap kiriman yang tersebar hingga ke laut dan menurunkan jarak pandang. - Antara
Nelayan menepikan perahunya, di antara kabut asap, di Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/9/2019). Nelayan setempat mengaku terganggu aktivitas melaut akibat kabut asap kiriman yang tersebar hingga ke laut dan menurunkan jarak pandang. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menembus wilayah Negara Bagian Johor, Malaysia menyebabkan kegiatan penerbangan terganggu. 

Sedikitnya seribu penumpang terlantar di Bandara Sultan Azlan Shah (LTSAS), Ipoh, Negara Bagian Perak kemarin. Pasalnya, pesawat mereka tidak bisa lepas landas akibat minimnya jarak pandang.

Menurut Manajer LTSAS, Mohd Ali Osman, akibat gangguan kabut asap karena karhutla di Indonesia ada lima penerbangan dan 1.104 penumpang yang penerbangannya terganggu.

"Penerbangan dari Johor Bahru dan Singapura menuju Ipoh dialihkan pendaratannya ke Subang dan Bandara Internasional Kuala Lumpur. Maskapai juga menyediakan transportasi darat menuju Ipoh," ujar Osman seperti dikutip Asiaone.com, Senin (16/9/2019).

Osman menyatakan akibat kabut asap pekat membuat jarak pandang hanya mencapai 2,5 kilometer. Selain itu, kabut asap juga menyulitkan para nelayan yang hendak melaut.

"Kalau kabut, tangkapan kami menurun. Jadi kebanyakan nelayan memilih istirahat berharap semoga situasi kembali normal," ujar seorang nelayan, Faizul Sofian (42).

Pengendara kendaraan bermotor menembus kabut asap pekat dampak dari kebekaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap pekat yang mengakibatkan jarak pandang menurun drastis di Kota tersebut./Antara

Pemerintah Malaysia sampai saat ini juga berusaha melakukan rekayasa cuaca dengan hujan buatan.

Menurut data Kementerian Lingkungan, kabut asap itu berasal dari titik api di Sumatera dan Kalimantan, yang kemudian terbawa angin menuju semenanjung Malaysia dan Negara Bagian Sarawak.

Selain itu, pemerintah setempat juga memutuskan menutup ratusan sekolah dan Taman Kanak-kanak karena indeks polusi (API) memperlihatkan kondisi udara setempat semakin tidak sehat.

"Berdasarkan data API yang memperlihatkan kandungan polutan semakin bertambah, maka kami meniadakan kegiatan belajar mengajar pada hari ini," kata Direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Johor, Azman Adnan. 

Adnan menyatakan keputusan itu diambil berdasarkan panduan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional, setelah berdiskusi dengan Badan Lingkungan setempat. Meski para pelajar diliburkan, tetapi guru dan staf sekolah diminta tetap masuk dan bekerja sesuai dengan aturan darurat yang sudah ditetapkan.

Adnan menyatakan keputusan meliburkan para pelajar dilakukan setelah tingkat polusi (API) mencapai 220.

"Seluruh orangtua dilarang mengantar anaknya ke sekolah sementara waktu," ujar Adnan.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia Kabut Asap bencana asap
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top