Hong Kong Krisis Politik, Pengembang Diskon Rumah Baru

Pengembang properti ternama asal Hong Kong, Sun Hung Kai Properties Ltd., menawarkan rumah-rumah baru dengan potongan harga demi menarik minat pembeli di tengah krisis politik yang memburuk.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 September 2019  |  15:33 WIB
Hong Kong Krisis Politik, Pengembang Diskon Rumah Baru
Seorang pemrotes mengangkat lima jari selama rapat umum ke Konsulat Jenderal AS di Hong Kong, China, 8 September 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembang properti ternama asal Hong Kong, Sun Hung Kai Properties Ltd., menawarkan rumah-rumah baru dengan potongan harga demi menarik minat pembeli di tengah krisis politik yang memburuk.

Batch pertama unit properti dalam pengembangan Cullinan West III di Kowloon dihargai HK$21.722 (US$ 2.770) per kaki persegi, atau 20 persen lebih rendah dari level pasar saat ini di daerah tersebut.

Oleh pihak pengembang, harga itu dijelaskan mendekati harga yang ditetapkan dua tahun lalu untuk fase pertama pengembangan yang sama meskipun nilai-nilai rumah telah meningkat 8 persen dalam periode tersebut.

“Peristiwa sosial baru-baru ini dan perang dagang AS-China telah mendorong sikap wait and see pada sebagian pembeli,” ujar Victor Lui, wakil direktur pelaksana Sun Hung Kai Properties, seperti dilansir Bloomberg.

“[Namun] permintaan perumahan tetap kuat, sebagaimana tercermin dari penerimaan yang baik untuk proyek-proyek baru yang lain,” tambahnya.

Protes antipemerintah selama berbulan-bulan telah mendorong lebih banyak pembeli properti mengambil sikap menunggu dan penjualan pun telah terpukul di seluruh bagian.

Menurut data dari Centaline Property Agency Ltd., nilai transaksi untuk rumah mewah baru merosot 31 persen pada Juli ke level terendah dalam delapan bulan.

Sementara itu, sewa bulanan untuk tempat tinggal ultra-mewah menurun dengan kisaran jumlah yang sama, seperti dilaporkan South China Morning Post pada Selasa (10/9/2019), mengutip Landscope Christie’s International Real Estate.

Aksi protes yang awalnya dipicu rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi dari wilayah itu ke China daratan telah berkembang menjadi demonstrasi prodemokrasi.

Tuntutan yang disampaikan para pengunjuk rasa tak hanya mengacu ke RUU itu, tapi juga mencakup proses pemilihan pemimpin eksekutif Hong Kong.

Meski RUU ekstradisi tersebut telah resmi ditarik, Pemimpin Eksekutif Carrie Lam tetap menolak untuk memenuhi tuntutan demonstran lainnya sehingga mendorong aksi protes berlanjut hingga kini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, demo Hong Kong

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top