‘Membunuh Masa Depan’ NU

Tidak sedikit nahdliyin yang menari dalam genderang mereka. Memunculkan jemaah yang mengaku nahdliyin sekaligus lantang menyerang NU. Bagaimana nasib NU?
‘Membunuh Masa Depan’ NU
Nahdlatul Ulama - nu.or.id

‘Peramal’ terkemuka yang juga pendiri Institute for Global Futures, James Canton, memerinci 5 faktor penentu masa depan ekstrem; kecepatan, kompleksitas, risiko, perubahan, dan kejutan.

Kredibilitas Canton di bidang futurologi memosisikannya sebagai penasihat di sejumlah perusahaan besar dunia. Bahkan, Gedung Putih, Olympusnya Amerika Serikat, mendapuknya menjadi penasihat di tiga bagian administrasi.

Titik penentu masa depan ekstrem sebagaimana disebut Canton, dihadapi oleh berbagai lembaga, tidak terkecuali Nahdlatul Ulama (NU). Kecepatan perkembangan teknologi informasi, kompleksitas situasi global dan nasional, perubahan yang kian cepat disertai kejutan tak terduga, memunculkan sejumlah risiko yang harus dihadapi NU sebagai organisasi.

Tanggung jawab NU dalam membendung gerakan perongrong NKRI semakin kompleks. Sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) yang menjadi prinsip NU sedang diuji.

Kepiawaian kelompok ‘anti-NU’ dalam bidang teknologi informasi membuat gempuran narasi negatif kian massif. Basis massa NU kian tergerus. Tahapannya dimulai dengan kemunculan individu abu-abu.

Ada 3 hal untuk mengidentifikasi nahdliyin atau bukan; amaliyah (praktik keagamaan), fikrah (pemikiran), dan harakah (gerakan organisasi). Kesamaan amaliyah belum tentu kesamaan fikrah, apalagi harakah. Para kiai NU mafhum bahwa perbedaan adalah rahmah.

Itulah mengapa hubungan NU sangat baik dengan banyak ormas Islam dengan prinsip menyokong NKRI. Sebut saja, Nahdlatul Wathan, Mathlaul Anwar, Al Khairiyah, Al Washliyah, dan banyak lagi.

Pangkal masalah yang dihadapi NU pascakemerdekaan adalah kelompok ‘Islam marah’. Genealoginya bisa dirunut dari Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamirkan Kartosuwiryo pada 1949.

Gerakan DI/TII ini menuding NU sebagai ‘pengkhianat Islam’ lantaran membantu ‘Republik Indonesia Kafir’. Ketika itu KH Idham Chalid merupakan Ketua I PBNU yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan. Untuk melawan narasi NII, dia membentuk Kiai-Kiai Pembantu Keamanan yang diketuai KH Muslich.

Pascaeksekusi Kartosuwiryo, dari NII lahir banyak faksi, utamanya adalah Jamaah Islamiyah yang kemudian memunculkan Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Ansharu Tauhid, dan Jamaah Ansharu Daulah. Bani NII selanjutnya berjejaring dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka teridentifikasi sebagai kelompok yang sering berkonfrontasi dengan nahdliyin.

Munculnya Front Pembela Islam pada 1998 tidak bisa diabaikan. Sejatinya amaliyah FPI sama persis dengan NU. Terlebih pimpinannya adalah dzurriyah Nabi.

Bagi nahdliyin, dzurriyah Nabi adalah sosok terhormat. Di lingkaran NU sendiri banyak habaib. Namun, NU menarik garis demarkasi dengan FPI. Bagi nahdliyin, ormas ini tergolong ‘Islam marah’. Aksi sweeping atas dasar nahi munkar dinilai bertentangan dengan prinsip NU. Represifitas FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada 2008 membuat batas FPI-NU kian tajam.

Historis hubungan NU dengan kubu garis keras semakin bias seiring dengan kompleksitas situasi nasional. Kontroversi pernyataan Ahok dan Pemilu berkelindan dalam gerakan politik berbalut agama. Parade dan aksi berjilid-jilid juga melibatkan secuil nahdliyin.

Blunder Banser sebagai bagian dari NU menjadi ‘kejutan’, diolah menjadi bahan narasi negatif untuk menghantam NU, memisahkan jam’iyah dari jamaahnya.

Nasib NU

Tidak sedikit nahdliyin yang menari dalam genderang mereka. Memunculkan jemaah yang mengaku nahdliyin sekaligus lantang menyerang NU. Bagaimana nasib NU?

Untuk memprediksi masa depan, James Canton membutuhkan waktu yang panjang melakukan riset dengan metode yang pelik. Dia mengemukakan 4 kemampuan yang diperlukan untuk mengendalikan masa depan: antisipasi, adaptasi, evolusi, dan inovasi.

Metode yang disebutkan Canton bukanlah pengetahuan anyar bagi NU. Greg Fealy dalam bukunya ‘Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967’ mengungkapkan prinsip-prinsip yang dijadikan dasar pengambilan keputusan NU terdiri dari 3 kategori utama; kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme. Kategori ini saling berkaitan dan dalam tingkatan berbeda didasarkan prinsip-prinsip fiqih. Lantaran prinsip inilah NU bisa bertahan sejak sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Sayangnya, kondisi zaman jauh berbeda dengan era yang telah lampau. Utamanya soal kecepatan perkembangan teknologi informasi yang memengaruhi berbagai lini.

Dalam soal ini, nasihat James Canton FedEx patut ditiru yaitu permainan ‘Membunuh Masa Depan’. Para pemimpin FedEx disodori permainan dengan skenario kompetitor mencuri 50% pelanggan FedEx dengan menggunakan strategi penurunan harga yang disebut shipthis.com. Para petinggi perusahaan ini mengakui risiko semacam itu logis dan bisa terjadi. Alhasil, pembicaraan beralih pada masalah kompetisi sehingga munculah strategi baru untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Dalam konteks ini stakeholders NU perlu ‘Membunuh Masa Depan NU’. Yakni dengan cara membuat skenario bahwa kelompok kompetitor menggaet 50 persen jemaah NU dari kota hingga ke desa-desa, sehingga memicu diskusi untuk memunculkan strategi baru dalam mendakwahkan Ahlussunnah wal jama’ah an nahdliyyah.

Cara ini dipercaya dapat mengidentifikasi risiko, menentukan langkah yang harus ditempuh, mengantisipasi kendala-kendala yang akan muncul, serta cara-cara melakukan perubahan. Genderang permainan ‘membunuh masa depan’ NU sudah ditabuh untuk menyemarakkan Islam yang ramah, bukan Islam pemarah.

Ade Faizal Alami

Mahasiswa Magister Sejarah Kebudayaan Islam UIN Jakarta

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nahdlatul ulama

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top