Banyak Perusahaan Pulang Kampung Gara-gara Perang Dagang China vs AS

Akibat pemberlakuan tarif impor yang kian menggerus keuntungan akibat perang dagang AS-China, beberapa perusahaan di Asia kembali ke negaranya untuk memproduksi barang mereka, atau pindah dari China ke negara lain.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 September 2019  |  10:46 WIB
Banyak Perusahaan Pulang Kampung Gara-gara Perang Dagang China vs AS
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Akibat pemberlakuan tarif impor yang kian menggerus keuntungan akibat perang dagang AS-China, beberapa perusahaan di Asia kembali ke negaranya untuk memproduksi barang mereka, atau pindah dari China ke negara lain.

Tren ‘pulang kampung’ perusahaan itu mewabah terutama untuk perusahaan sektor permodalan dan sektor elektronik milik Jepang dan Taiwan.

Mereka berupaya menghindari tarif impor AS yang lebih tinggi dari China, menurut analisis Nomura dari 56 perusahaan yang ditemukan seperti dikutip CNBC.com, Jumat (6/9/2019).

AS dan China terkunci dalam perselisihan perdagangan yang menyakitkan dan berlarut-larut selama lebih dari setahun. Kedua belah pihak saling memberlakukan tarif hukuman untuk barang impor senilai miliaran dolar. Kedua negara baru saja memberlakukan tarif baru Minggu (1/9/2019).

Sebagai akibat dari konflik perdagangan itu, Taiwan menjadi "penerima manfaat besar" dari perusahaan-perusahaan yang memindahkan produksi kembali ke pangkalan mereka, menurut laporan Nomura.

Menurut Kementerian Urusan Ekonomi wilayah itu, sekitar 40 perusahaan Taiwan akan memindahkan pabrik mereka kembali ke Taiwan dari China, menurut catatan Nomura mengutip laporan South China Morning Post pada Februari 2019.

Taipei telah mempromosikan prakarsa "Invest Taiwan" yang bertujuan untuk menarik perusahaan kembali ke rumah.

Berdasarkan program itu, perusahaan dapat mengajukan pinjaman murah untuk menutup biaya relokasi.

Sebagai contoh, pembuat papan sirkuit Flexium dan komputer Quanta sedang dalam persiapan pulang kampung. Perushaan SK Hynix, pembuat chip terbesar kedua di dunia, juga ingin memindahkan produksi modul chip tertentu kembali ke Korea Selatan.

Adapun perusahaan Jepang, Mitsubishi Electric mengalihkan produksi peralatan mesin yang terikat kontrak dengan AS dari pabrikannya di Dalian, Cina ke Nagoya di Jepang. 

Sedangkan pembuat mesin Toshiba Machine dan Komatsu merencanakan langkah yang sama, menurut Nomura sebagimana mengutip masing-masing The Japan Times dan The Asahi Shimbun.

"Tren ini konsisten dengan perbedaan ekspor baru-baru ini yang terlihat di Asia sebagai akibat dari pengalihan perdagangan," tulis ekonom Nomura Sonal Varma dan Michael Loo dalam sebuah laporannya.

Perusahaan komputer seperti Dell, yang khawatir tentang kenaikan biaya tenaga kerja di China, juga mempercepat perpindahan pabrik mereka jauh dari China, kata para ekonom.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, taiwan, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top