Ketika Bank Sentral Kehilangan Kredibilitas

Semakin hari, investor semakin tidak percaya dengan kebijakan pendorong inflasi yang diupayakan bank sentral dan berpendapat bahwa paket stimulus lebih banyak memberikan kerugian daripada keuntungan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 05 September 2019  |  12:11 WIB
Ketika Bank Sentral Kehilangan Kredibilitas
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA - Semakin hari, investor semakin tidak percaya dengan kebijakan pendorong inflasi yang diupayakan bank sentral dan berpendapat bahwa paket stimulus lebih banyak memberikan kerugian daripada keuntungan.

Turunnya ekspektasi untuk pertumbuhan harga konsumen, penurunan suku bunga obligasi dan kurva imbal hasil yang lebih tinggi semuanya dipicu oleh meningkatnya keraguan di pasar keuangan mengenai kapabilitas para pembuat kebijakan moneter untuk menggenjot ekonomi dan mencegah resesi global.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Bank of America Merrill Lynch bulan lalu menyajikan sebuah data di mana kekhawatiran yang paling banyak dikutip oleh para investor adalah 'kegagalan kuantitatif'.

Semua orang meningkatkan taruhannya terhadap sejumlah bank sentral seperti The Fed, ECB, dan bahkan BOJ yang tampaknya siap untuk mengumumkan kebijakan yang lebih longgar paling cepat dalam bulan ini.

"Apa yang ingin dikatakan oleh pasar adalah mereka tidak mengharapkan bank sentral dapat meningkatkan inflasi sekarang. Namun bank sentral perlu mengklaim kembali kredibilitasnya," ujar Naoya Oshikubo, ekonom senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management Co., seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (5/9/2019).

Keraguan semacam itu menjadi semakin parah bahkan setelah bank sentral memberikan lebih dari 700 pemotongan suku bunga selama satu dekade terakhir dan menghabiskan triliunan dalam pembelian obligasi.

Sementara langkah tersebut berhasil membantu menghindari ekonomi dari depresiasi setelah krisis pada 2008, inflasi tetap rendah dan sebagian ekonomi utama menurunkan target inflasinya.

Dana Moneter Internasional baru-baru ini memotong prediksi untuk inflasi di negara-negara maju dengan rata-rata hanya 2% untuk tahun depan.

Langkah yang diambil The Fed dengan menurunkan benchmarknya untuk pertama kali sejak satu dekade terakhir serta ECB yang diperkirakan akan mengambil kebijakan pelonggaran bulan ini, tidak mampu memberikan dorongan bagi laju inflasi.

Ekspektasi inflasi jangka panjang yang diproksi untuk lima tahun mengalami penurunan di AS sementara di zona euro rekornya mencapai level terendah.

Bankir bank sentral menghadapi kesenjangan kredibilitas ketika mereka menggali stok amunisi yang sudah hampir habis terkuras. Suku bunga the Fed, misalnya, saat ini berada sekitar setengah dari resesi terakhir.

Seperti BOJ, suku bunga acuan ECB sudah berada di wilayah negatif. 

Membeli obligasi mungkin tidak lagi memiliki dampak seperti dulu ketika Gubernur Mario Draghi, yang kebijakannya membantu mengangkat ekonomi Eropa dari keterpurukan pada 2012, telah menginspirasi kepercayaan para investor.

"Pada tahap ini tidak jelas apakah melakukan sesuatu sebenarnya akan membantu, merugikan atau tidak berdampak apa pun bagi perekonomian," kata Steven Englander, yang melakukan penelitian pertukaran mata uang asing G10 di Standard Chartered Bank.

Dia menambahkan bahwa jika ada terlalu banyak stimulus di pasar, dampaknya justru akan terinversi dan manfaatnya tidak dapat terserap dengan baik untuk mendukung pertumbuhan.

KONDISI EKONOMI TERKINI

Sementara itu, ada keraguan lain yang tumbuh terkait kemampuan para pembuat kebijakan dengan latar belakang ekonomi saat ini.

Di satu sisi, perang dagang dan krisis politik di Inggris dan Italia menabur ketidakpastian yang mungkin tidak dapat diredam dengan suku bunga yang lebih rendah.

Ahli strategi Morgan Stanley yang dipimpin oleh Hans Redeker menuliskan dalam sebuah laporan bahwa rintangan untuk mencapai inflasi yang lebih tinggi semakin meningkat.

Pada publikasi lain, mereka memperingatkan dampak berbalik dari kebijakan moneter yang longgar justru dapat melemahkan daripada menstimulasi ekonomi.

Kemungkinan ini mendesak kebutuhan stimulus fiskal untuk menghindari ketergantungan yang berlebihan pada suku bunga rendah.

Para investor khawatir bahwa mempertahankan suku bunga terlalu rendah terlalu lama justru akan menahan daripada memacu pertumbuhan dengan menciptakan gelembung aset, menghambat bank serta mengikis pengembalian bagi pensiunan, perusahaan asuransi, dan penabung.

Selain dampak jangka pendek, ada pula faktor jangka panjang yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.

Globalisasi, populasi yang menua dan gangguan digital mengancam akan menekan inflasi terlepas dari upaya kebijakan moneter.

Dalam komentar komprehensif pertamanya tentang kebijakan moneter sejak ditunjuk sebagai calon gubernur ECB, Christine Lagarde mengatakan pekan lalu bahwa bank sentral masih memiliki instrumen yang cukup untuk mengatasi penurunan dan siap untuk menggunakannya jika diperlukan.

Sejumlah bank termasuk Nomura Holdings Inc. dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan ECB juga akan memangkas suku bunga dan memulai kembali pelonggaran kuantitatif.

Fed fund futures diindikasikan akan mengalami pelonggaran lebih dari seperempat poin pada akhir September. JPMorgan Chase & Co. juga mengantisipasi kebijakan dari BOJ bulan ini.

Jika bank sentral benar-benar gagal, giliran pemerintah yang akan berada di bawah tekanan untuk melangkah maju dengan potensi pengeluaran yang lebih besar atau memberlakukan pajak yang lebih rendah guna meningkatkan ekonomi agar inflasi berjalan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed, ekonomi global

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top