Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HSBC : Aturan hukum Hong Kong sangat diperlukan

HSBC Holdings Plc akhirnya bersuara atas aksi demonstrasi di Hong Kong dan menyerukan resolusi damai demi mengakhiri aksi yang telah berlangsung dalam dua bulan terakhir tersebut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  12:03 WIB
Para pemrotes RUU Anti-Ekstradisi membagikan selebaran kepada para penumpang selama demonstrasi massa di bandara internasional Hong Kong, di Hong Kong, China, 13 Agustus 2019. - Reuters
Para pemrotes RUU Anti-Ekstradisi membagikan selebaran kepada para penumpang selama demonstrasi massa di bandara internasional Hong Kong, di Hong Kong, China, 13 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – HSBC Holdings Plc akhirnya bersuara atas aksi demonstrasi di Hong Kong dan menyerukan resolusi damai demi mengakhiri aksi yang telah berlangsung dalam dua bulan terakhir tersebut.

Sementara bisnis dan taipan lokal telah berbicara tentang kerusuhan di Hong Kong, HSBC yang memperoleh lebih dari setengah laba sebelum pajak dari kota tersebut menjadi satu di antara bank-bank global pertama yang secara publik bersuara terhadap krisis tersebut.

Bank yang berbasis di London, Standard Chartered Plc, serta Bank of East Asia Ltd dari Hong Kong juga memposting himbauan di surat kabar pada hari Kamis untuk menyelesaikan krisis tersebut.

"Sebagai perusahaan yang berasal dari Hong Kong, kami sangat prihatin dengan peristiwa sosial baru-baru ini dan sangat mengutuk setiap kekerasan dan tindakan yang mengganggu tatanan sosial," ungkap HSB dalam sebuah iklan di Hong Kong Economic Times.

“Aturan hukum Hong Kong sangat diperlukan untuk kota ini,” kata HSBC, seperti dikutip Bloomberg.

Sejumlah perusahaan secara langsung mengomentari aksi protes ini, dan tanggapan Beijing dalam beberapa kasus, terutama tindakan kerasnya terhadap Cathay Pacific Airways Ltd., menyarankan bahwa China mengharapkan kepatuhan dengan pandangan Partai Komunis.

"Kami bertekad untuk melindungi 'satu negara, dua sistem' dan mendukung pemerintah untuk secara efisien menjaga ketertiban dan keamanan sosial," kata Standard Chartered dalam iklan satu halaman penuh di surat kabar China, Wen Wei Po.

Aksi protes yang berawal dari penolakan undang-undang ekstradisi menjadi penolakan besar-besaran atas kepemilikan Cina atas Hong Kong telah menyebabkan politisi dan pemimpin lokal menyuarakan keprihatinan tentang prospek pertumbuhan Hong Kong. Perlambatan besar di bekas jajahan Inggris ini bisa berdampak besar pada pendapatan HSBC.

HSBC didirikan di Hong Kong pada tahun 1865 dan menghasilkan hampir setengah dari pendapatannya di Asia dan dalam beberapa tahun terakhir serta mengalirkan puluhan miliar dolar investasi ke China.

"HSBC selalu menghormati karyawan kami memiliki untuk pandangan pribadi mereka sendiri tentang masalah politik dan sosial," kata HSBC dalam email sebelum iklan itu diterbitkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hsbc
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top