Rekam Jejak Bamsoet Dinilai Layak Gantikan Airlangga

Rekam jejak kiprah Bambang Soesatyo di kancah politik nasional menjadi satu nilai positif tersendiri yang dimilikinya menjelang Musyawarah Nasional Partai Golkar tahun ini.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  16:59 WIB
Rekam Jejak Bamsoet Dinilai Layak Gantikan Airlangga
Bambang Soesatyo mendeklarasikan diri sebagai Calon Ketua Umum Partai Golkar periode 2019-2024 - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA - Rekam jejak kiprah Bambang Soesatyo di kancah politik nasional menjadi satu nilai positif tersendiri yang dimilikinya menjelang Musyawarah Nasional Partai Golkar tahun ini.

Menurut pengamat politik dari Indonesian Public Institute Karyono Wibowo, Bamsoet merupakan contoh politikus andal karena tingkat penerimaannya cukup baik di internal Golkar serta dari partai-partai politik lain.

Ketua DPR petahana ini dianggap cukup lentur dalam pergaulan sosial dan politik, sehingga kehadirannya mudah diterima orang.

"Dia cukup lentur dalam pergaulan sosial maupun politik. Rekam jejak dan pengalamannya cukup panjang mulai dari pengusaha, pimpinan organisasi massa dan organisasi profesional, pimpinan partai, hingga saat ini mengemban tugas sebagai Ketua DPR. Rekam jejak ini bisa jadi modal untuk memimpin Golkar," kata Karyono kepada wartawan, Rabu (14/8/2019).

Bamsoet terhitung sudah belasan tahun bergabung dengan Golkar. Pada awal dirinya masuk ke Golkar pada 2008, Bamsoet langsung dipercaya menjadi Wakil Bendahara Umum DPP.

Setelah itu, dia terpilih menjadi anggota DPR RI Periode 2009-2014 dan duduk di Komisi III. Selama itu Bamsoet dikenal sebagai salah satu dari 9 anggota DPR yang membentuk Panitia Khusus Hak (Pansus) Angket Bank Century.

Rekam jejak Bamsoet yang mumpuni bisa membuat dirinya sukses jika memimpin Golkar. Sebagai informasi, Bamsoet telah digadang-gadang sebagai calon ketua umum Golkar menggantikan Airlangga Hartarto.

Desakan pergantian ketua umum mengemuka terlebih pasca Golkar gagal mencapai target perolehan suara di Pemilu legislatif 2019. Hal ini diperparah dengan menurunnya perolehan suara Golkar di Pileg 2019 dibanding Pileg 2014.

Pada pemilu 2014, Golkar mendapat 14,7 persen suara dan menjadi peraih suara terbanyak kedua. Akan tetapi, suara Golkar merosot hingga 12,31 persen pada Pileg 2019. Perolehan itu di bawah suara PDI Perjuangan yang meraih 19,33 persen dan Gerindra dengan 12,57 persen.

Menurut Karyono, penurunan suara Golkar di Pemilu tak bisa dilepas dari tantangan yang dihadapi partai ini, yakni banyaknya elite dan kader yang terjerat kasus korupsi.

"Tantangan Golkar semakin berat. Salah satunya diterpa sejumlah skandal korupsi yang menjerat beberapa kader utama. Selain itu, Golkar dihadapkan pada situasi politik yang sulit, akibat konflik internal yang terjadi sebelumnya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bambang Soesatyo, partai golkar

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top