Ini Hasil Kerja Posko Penanggulangan Tumpahan Minyak Pertamina

Kementerian Perhubungan terus berupaya menanggulangi musibah tumpahan minyak dari anjungan milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java di Pantai Utara Jawa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  17:06 WIB
Ini Hasil Kerja Posko Penanggulangan Tumpahan Minyak Pertamina
Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Senin (22/7/2019). Tumpahan minyak tersebut tercecer di sepanjang pantai Sedari hingga pantai Cemarajaya akibat kebocoran pipa proyek eksplorasi minyak milik Pertamina. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan terus berupaya menanggulangi musibah tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara Jawa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Ahmad menyatakan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kepulauan Seribu selaku Mission Coordinator (MC) Tier 1 terus melakukan sejumlah langkah penanganan tumpahan minyak dari PHE ONWJ.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengaktifkan Posko Penanggulangan Tumpahan Minyak (PTM) Kantor KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu yang memantau proses penanganan tumpahan minyak selama 24 jam.

"Data per Jumat [9/8/2019], posko menyebutkan total 4.380,85 barel tumpahan minyak telah dikumpulkan dan diangkat ke darat dari area pencemaran tumpahan minyak yang meliputi area offshore, yaitu di Blok+ Offshore North West Java dan area onshore, meliputi Sungai Buntu, Pusakajaya Utara, Cemarajaya, dan Sedari," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (9/8/2019).

Selain memantau secara aktif dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, dia melanjutkan posko juga berkoordinasi dengan Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok untuk secara rutin memancarkan navigational warning (NAVTEX dan VHF) melalui Stasiun Radio Pantai (SROP). 

Langkah kedua, untuk menangani offshore secara keseluruhan, Kemenhub mengerahkan 46 unit kapal, 926 orang personel, yang dilengkapi dengan 5.700 meter oil boom. 

Kemenhub juga mengerahkan kapal negara yang terdiri atas kapal patroli sea and coast guard, yakni KN Alugara milik pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, kapal negara KNP 355, KN V054, dan KNS 017 milik KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu  serta KN Edam milik Kantor Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok.

Untuk penanganan di area onshore, sepanjang 2.700 m oil boom sudah terpasang dengan melibatkan sebanyak 1.805 personel yang terdiri atas Ditjen Perhubungan Laut, OSCT, masyarakat sekitar, Pokwasmas, TNI, dan Polri.

“Untuk area onshore, sudah 1.113.082 karung limbah terkumpul dan dikirim ke darat,” kata Ahmad.

Laporan dari posko juga menyebutkan, selain mobile oil boom sepanjang 2x200 m yang disiagakan di Teluk Jakarta, saat ini juga tersedia static oil boom sepanjang 2x200 meter di Floating Storage Regastification Unit (FSRU) Nusantara Regas.

"Kami terus berupaya untuk memberikan dukungan secara penuh dalam menanggulangi pencemaran tumpahan minyak dan gas ini, misalnya dengan mengerahkan tambahan oil boom, kapal patroli, atau tambahan buoy [rambu suar] jika dibutuhkan," kata Ahmad.

Langkah ketiga adalah penanganan terhadap masyarakat yang terkena tumpahan minyak, seperti menyiapkan posko kesehatan dan rutin memberikan informasi terkini  mengenai langkah yang telah diambil oleh tim penanganan tumpahan minyak.

Pertamina sudah menyediakan enam posko kesehatan di daerah terdampak, meliputi Desa Sedari, Desa Cemara Jaya, Desa Tambak Sari, Desa Sungai Buntu, Desa Muara Bening, dan Kepulauan Seribu. Selain itu, akan ada enam dokter, lima ambulans, dan 37 tenaga medis.

Pemerintah terus memonitor dan meminta Pertamina secara optimal menahan tumpahan minyak agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melokalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan.

Insiden tercatat pula memberi dampak di darat atau di bagian garis pantai (shoreline). Terhitung ada 2.520 m fish net di pesisir pantai terdampak.

"Di darat, upaya-upaya sudah dilakukan, terutama di kawasan-kawasan mangrove, kawasan-kawasan wisata, dan kawasam yang banyak penduduk. Kami memastikan Pertamina sudah pasang oil boom untuk kebutuhan di shoreline," kata Ahmad.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, Kemenhub, tumpahan minyak

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top