Apple Dituding Lakukan Persaingan Tidak Sehat

Apple tengah menghadapi tudingan monopoli pasar di Rusia, seiring tuntutan perusahaan lain di negeri tersebut.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  18:23 WIB
Apple Dituding Lakukan Persaingan Tidak Sehat
Logo Apple di satu toko Apple di Munich, Jerman - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Apple tengah menghadapi tudingan monopoli pasar di Rusia, seiring tuntutan perusahaan lain di negeri tersebut.

Dikutip dari Reuters, Rabu (8/8/2019), Lab Kaspersky yang merupakan produsen aplikasi melancarkan gugatan persaingan tak sehat kepada Apple.

Kaspersky yang memproduksi salah satu aplikasi pengawasan bagi orang tua dalam penggunaan gawai pada anak merasa Apple tak memberikan ruang masuknya aplikasi buatan tersebut, karena tidak bias dijajakan dalam App Store.

Seiring dengan penolakan sistem aplikasi itu, Apple telah merilis versi 12 dari aplikasi kontrol orangtua sendiri, seperti Screen Time, yang memiliki fungsi serupa dengan program Kaspersky. Aplikasi pengawasan bagi orang tua itu memungkinkan kontrol penggunaan ponsel dan tablet anak-anak.

Atas aduan tersebut, Watchdog FAS mengatakan sedang menyelidiki mengapa versi baru aplikasi Kaspersky telah ditolak oleh sistem operasi Apple.

Ditanya tentang investigasi Rusia, Apple  menyatakan baru-baru ini telah menghapus beberapa aplikasi kontrol orang tua dari App Store karena dianggap membahayakan privasi dan keamanan pengguna.

Beberapa aplikasi itu menggunakan teknologi ‘sangat invasif’ yang disebut Mobile Device Management (MDM). Hal itu kemudian dianggap sebagai bentuk pelanggaran kebijakan App Store.

Sementara itu Kaspersky mengatakan pedoman App Store Apple mengizinkan penggunaan MDM terbatas. Namun demikian, hingga kini tidak jelas bagaimana cara mendapatkan izin Apple.

Kaspersky menganggap kebijakan Apple melanggar aturan kompetisi sehat. Mereka mengatakan persyaratan yang diajukan Apple mengurangi daya saing pengembangan dari pihak ketiga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple inc

Sumber : Reuters

Editor : Lili Sunardi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top