Ekonomi Filipina Tumbuh Lambat, Suku Bunga Bakal Turun Lebih Dalam

Ekonomi Filipina tumbuh pada laju paling lambat sepanjang kuartal kedua, dalam 4 tahun terakhir. Ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral untuk memangkas suku bunga pun memuncak dengan perkiraan setidaknya seperempat poin persentase.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  10:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi Filipina tumbuh pada laju paling lambat sepanjang kuartal kedua, dalam 4 tahun terakhir. Ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral untuk memangkas suku bunga pun memuncak dengan perkiraan setidaknya seperempat poin persentase.

Produk domestik bruto Filipina tumbuh 5,5% secara tahunan pada kuartal kedua, jauh lebih rendah dari estimasi median survei Bloomberg pada kisaran 5,9%. Realisasi ini juga lebih rendah dari pertumbuhan 5,6% pada kuartal sebelumnya.

"Benar adanya bahwa angka PDB menambah beban bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga," ujar ekonom senior untuk kawasan Asean di UBS Group Singapore, Edward Teather, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (8/8/2019).

Dia juga memperkirakan bahwa akan ada pelonggaran kebijakan hingga mencapai 75 poin persentase sepanjang tahun ini. Namun, masih menjadi pertanyaan kapan bank sentral akan mengeksekusi pemangkasan sebesar 50 poin karena data ekonomi terkini telah memberikan sinyal untuk pelonggaran lebih lanjut.

Indeks acuan PSEi memangkas kenaikan setelah data PDB dipublikasi dan tidak mengalami perubahan yang signifikan sampai dengan pukul 10:46 waktu Manila. Sementara itu, peso tercatat menguat sebesar 0,3% terhadap dolar AS.

Dalam laporan pertumbuhan, Perencanaan Ekonomi Ernesto Pernia mengutip pola cuaca El Nino, perang dagang AS-China dan penundaan anggaran nasional adalah tantangan bagi perekonomian.

"Pemerintah mungkin harus meninjau kembali target ekonominya agar lebih realistis untuk tahun ini," ujar Pernia.

Bahkan ketika dia mengatakan pertumbuhan PDB masih bisa mencapai 6%-6,5% untuk setahun penuh.

Angka pertumbuhan kuartal kedua dapat mempengaruhi keputusan bank sentral pada kemudian hari.

Hampir semua dari 26 ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan penurunan 25 basis poin ke tingkat benchmark karena inflasi yang lemah memberikan ruang bagi pembuat kebijakan untuk mendukung perekonomian.

Chidu Narayanan, seorang ekonom di Standard Chartered Plc di Singapura, menyebut realisasi kuartal kedua sangat rendah.

Narayanan mengharapkan pemotongan seperempat poin dari bank sentral Kamis (8/8/2019) sore.

Namun, mengingat kerugian besar dalam PDB kuartal kedua, dikombinasikan dengan pembunuhan mendadak dovish baru-baru ini, tidak bisa mengesampingkan langkah pelonggaran suku bunga yang lebih besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi filipina

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top