Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembuat TikTok Rambah Bisnis Mesin Pencari, Ancam Monopoli Baidu di China

Baidu menghadapi ancaman dari ByteDance Ltd., sebuah startup yang berbasis di Beijing yang menciptakan aplikasi video TikTok, yang merambah mesin pencarian dan mengancam bisnis periklanan Baidu.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 02 Agustus 2019  |  08:43 WIB
Bytedance Technology - Reuters
Bytedance Technology - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika Google menarik diri dari pasar China pada 2010, Baidu Inc. secara de facto memonopoli bisnis mesin pencarian internet.

Namun, saat ini perusahaan menghadapi ancaman dari ByteDance Ltd., sebuah startup yang berbasis di Beijing yang menciptakan aplikasi video TikTok, yang merambah mesin pencarian dan mengancam bisnis periklanan Baidu.

ByteDance, yang dikenal karena secara agresif merekrut talenta besar di bidang teknologi, mengalihkan perhatiannya ke salah satu bisnis online paling menguntungkan ini.

"Dari 0 hingga 1, kami sedang membangun mesin pencari umum untuk pengalaman pengguna yang lebih ideal," menurut posting perusahaan di layanan pesan WeChat, seperti dikutip Bloomberg.

Baidu menolak menanggapi rencana ini. Saham perusahaan turun 2,2 persen dalam perdagangan di bursa AS.

ByteDance kemungkinan tidak akan membuat mesin pencari mandiri seperti halnya Baidu dan Google. Sebagai gantinya, pencarian ByteDance akan tertanam di dalam aplikasinya sendiri, dimulai dengan layanan berita Jinri Toutiao.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Itu akan mempermudah pengguna dengan cepat mencari berita, informasi, atau produk terkait. ByteDance akan meraih keuntungna dari pencarian dan menampilkan iklan.

Layanan ini akan bekerja dengan Douyin, versi loka TikTok di China, serta platform streaming video populer ByteDance.

Zhang Yiming, pendiri ByteDance, telah mulai menunjukkan ambisinya yang luas kepada dunia untuk menciptakan raksasa teknologi global. Setelah menciptakan aplikasi Toutiao yang populer di China, ia mengubah TikTok menjadi aplikasi populer di global, dengan penggemar tersebar dari Beijing hingga Boston dan Bangalore.

Valuasi startup yang berdiri sejak 2012 ini telah melonjak hingga US$75 miliar, lebih tinggi dari startup mana pun di dunia. Saat ini perusahaan sedang memperluas jangkauan pasar dengan lebih banyak aplikasi dan smartphone buatan sendiri.

Sementara itu, Baidu tengah berjuang dari saingan yang lebih besar, Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. Kekayaan pendiri dan CEO Baidu, Robin Li merosot karena nilai pasar perusahaannya jatuh. Valuasi pemimpin mesin pencarian di China saat ini bernilai US$38 miliar, turun sekitar 50 persen dari dua tahun sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

baidu
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top