AS-China Berunding, Perang Dagang Belum Tentu Usai

Rombongan tim perunding Amerika Serikat (AS) akan bertolak ke China pekan depan untuk mengadakan negosiasi perdagangan tingkat tinggi dengan rekan sejawatnya di Negeri Tirai Bambu.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  10:26 WIB
AS-China Berunding, Perang Dagang Belum Tentu Usai
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Rombongan tim perunding Amerika Serikat (AS) akan bertolak ke China pekan depan untuk mengadakan negosiasi perdagangan tingkat tinggi dengan rekan sejawatnya di Negeri Tirai Bambu.

Pertemuan itu akan menjadi negosiasi langsung pertama oleh kedua belah pihak setelah perundingan kedua negara berakhir buntu pada Mei dan kedua pemimpin negara memutuskan menyambung kembali pembicaraan mereka.

Bulan lalu, di sela-sela KTT G20 Jepang, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping memutuskan menghentikan pengenaan tarif impor untuk sementara dan mengarahkan negosiator mereka untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan.

Sejak itu, pejabat pemerintah kedua negara diketahui telah melakukan pemanasan dengan membangun komunikasi mereka melalui sambungan telepon.

Menurut sumber terkait, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan tim perundingnya akan berada di Shanghai pada Senin (29/7) hingga Rabu (31/7) untuk membahas sejumlah isu perdagangan.

Pertemuan itu diperkirakan akan berisikan diskusi luas tentang isu-isu perdagangan antara kedua negara namun kemungkinan tidak akan menghasilkan terobosan besar, ungkap seorang pejabat senior pemerintah AS.

Pihak China dikatakan meminta pertemuan itu untuk diadakan di Shanghai, bukan Beijing. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan baik dari kementerian luar negeri maupun perdagangan China terkait kabar ini.

Namun begitu, rata-rata bursa saham global merespons kabar ini dengan positif. Indeks S&P 500 ditutup naik hampir 0,7 persen di New York pada Selasa (23/7/2019), sedangkan bursa saham China menguat pada awal perdagangan Rabu (24/7/2019), dengan seluruh indeks utama melonjak lebih dari 1 persen.

Para investor asing melanjutkan pembelian melalui link pertukaran dengan Shanghai dan Shenzhen dan indeks Hang Seng China pun naik 1 persen.

Namun sejumlah pejabat pemerintah AS mengecilkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan China dalam waktu dekat.

“Tak mungkin menilai berapa lama waktu yang dibutuhkan ketika tujuan presiden adalah untuk mendapatkan kesepakatan yang tepat atau meneruskan tarif,” ujar Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross kepada Bloomberg TV pada Selasa (23/7/2019).

“Yang penting adalah jika kita membuat kesepakatan, itu adalah kesepakatan yang tepat, kesepakatan yang sangat bagus. Itulah tujuan utamanya. Dan itu jauh lebih penting daripada waktu yang tepat,” tegas Ross.

Kedua belah pihak masih berselisih atas sejumlah isu penting seperti tuntutan Washington untuk reformasi struktural ekonomi China. Di sisi lain, Beijing menginginkan AS untuk menghapus tarif pada barang-barang impor China.

Dalam beberapa pekan terakhir, pembicaraan telah difokuskan pada lisensi Huawei dan pembelian produk-produk pertanian AS. Tidak ada keterlibatan soal masalah-masalah struktural yang ingin ditangani AS dalam kesepakatan perdagangan apa pun.

Secara keseluruhan, pertemuan mendatang dilihat sebagai langkah positif. Tapi tetap ada kesan hati-hati bahwa diskusi nanti dapat merembet lebih luas ketimbang fokus untuk melakukan negosiasi yang substantif. Ini mengingatkan kembali keadaan dalam pertemuan sebelumnya pada Mei.

Di sisi China, Menteri Perdagangan Zhong Shan akan menjadi bagian dari kelompok inti negosiator, yang telah dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Liu He.

Oleh sebagian pihak, Zhong dinilai memiliki pandangan lebih keras daripada Liu. Beberapa pengamat China mengatakan ia masuk dalam tim perundingan itu untuk mewakili pandangan yang lebih hawkish di meja negosiasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top