Cerita Pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT yang Nyaris Batal

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Verry Surya Hendrawan menceritakan pertemuan presiden terpilih Jokowi dan rivalnya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto nyaris batal.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  09:01 WIB
Cerita Pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT yang Nyaris Batal
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di dalam gerbong kereta MRT di Jakarta, Sabtu (13/7/2019)./ANTARA FOTO - Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN)  Jokowi-Ma'ruf,  Verry Surya Hendrawan menceritakan pertemuan presiden terpilih Jokowi dan rivalnya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto nyaris batal.

 "Pertemuan di MRT itu sebenarnya hampir saja, hampir saja ya, tidak jadi," kata Sekretaris Jenderal Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia ini, Senin (15/7/2019) malam.

Pertemuan itu, ujar Verry, baru bisa dipastikan sekitar lima jam sebelumnya. Ganjalannya adalah orang-orang di pihak Prabowo. Verry menolak menyebut nama.

"Mereka meniupkan isu-isu kalau yang mendukung pertemuan itu berarti mengharap kursi atau jabatan."

Namun, hal itu akhirnya bisa diluruskan dengan menyampaikan informasi yang tepat kepada Prabowo, sehingga bisa terlaksana pertemuan bersejarah itu.

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjabat tangan sebelum menggelar konferensi pers di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019). Ini merupakan pertemuan pertama Jokowi-Prabowo setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019./JIBI - BISNIS/Dedi Gunawan

Pertemuan sebetulnya sudah dirancang sejak lama. Wacana itu sudah digaungkan sejak hari pencoblosan usai. Ada tim yang memang diutus untuk mempertemukan kedua belah pihak. Sekali lagi, Verry tak mau mengungkap siapa saja orang yang berjasa itu.

"Itu sudah beberapa kali sempat diupayakan oleh pihak-pihak atau tim yang memang ditugasi membangun silaturahmi."

Sekretaris Kabinet Pramono Anung tak menampik bahwa ada peran Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) Budi Gunawan yang menjembatani pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo.

"Pak BG kan kepala BIN, beliau tentu bekerja tanpa ada suara, dan Alhamdulillah apa yang dikerjakan hari ini tercapai," kata Pramono Anung di FX Senayan, Jakarta pada Sabtu (13/7/2019).

Namun, pertemuan itu rupaya tak disambut baik oleh semua pihak. Ada pihak-pihak yang menuding Prabowo Subianto tergiur kursi kabinet hingga akhirnya mau bertemu dengan Presiden Jokowi. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade berang dengan berbagai tudingan itu.

Menurut Andre, sejak pemerintahan presiden keenam Susilo Bambang (SBY) pada 2009 - 2014, Gerindra selalu ditawari kursi kabinet, namun selalu ditolak. Jokowi menawari Gerindra kursi kabinet pada 2014-2019 tapi tidak diambil.

“Pada 2018 pun kami ditawari kursi wapres untuk 2019, pun tidak kami ambil."

Andre mencuit dalam akun twitter-nya @andre_rosiade. Dia memersilakan cuitannya dikutip.

Jika sekarang dengan gampang Gerindra dan Prabowo dituduh berkhianat karena iming-iming jabatan, ujar Andre, dia tak berterima. Gerindra, kata dia telah 10 tahun beroposisi.

“Sejak berdiri sampai sekarang selalu berada di luar pemerintahan, bukti kami konsisten dan tidak gampang tergoda."

Politikus asal Sumatra Barat ini menegaskan Prabowo Subianto mau bertemu dengan Jokowi, hanya demi Indonesia guyub.

"Pak Prabowo dan Gerindra tidak pernah dan tidak akan pernah mengkhianati pendukungnya."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, gerindra, prabowo subianto

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top