Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tangani 14.000 Pengungsi di Indonesia, UNHCR Dorong Pemberdayaan Lewat Program Pelatihan

Jumlah pengungsi terus bertambah seiring dengan situasi global yang makin dinamis, termasuk konflik sosial, politik, dan ekonomi.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  22:24 WIB
Pengungsi etnis Rohingya, Myanmar Hasan Ali (kanan), dibantu rekannya sesama pengungsi membawa barang-barangnya saat akan berangkat ke bandara untuk diterbangkan ke Amerika Serikat di lokasi penampungan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (19/6/2019). Sebanyak enam pengungsi asal Afghanistan dan Myanmar di bawah naungan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) diterbangkan ke lokasi penampungan di Amerika Serikat. - ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Pengungsi etnis Rohingya, Myanmar Hasan Ali (kanan), dibantu rekannya sesama pengungsi membawa barang-barangnya saat akan berangkat ke bandara untuk diterbangkan ke Amerika Serikat di lokasi penampungan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (19/6/2019). Sebanyak enam pengungsi asal Afghanistan dan Myanmar di bawah naungan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) diterbangkan ke lokasi penampungan di Amerika Serikat. - ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mendorong agar pengungsi di Indonesia bisa memperoleh program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas diri.

Perwakilan UNHCR Indonesia Thomas Vargas mengatakan pengungsi di Indonesia, sebagaimana di negara-negara lainnya, memang tidak memiliki hak untuk bekerja. Oleh karena itu, UNHCR dengan Pemerintah Indonesia tengah bekerja sama mencari cara agar pengungsi dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung terhadap bantuan pihak lain.

"Kami kerja sama dengan pemerintah untuk membuat proyek yang setidaknya bisa memberi kesempatan pengungsi membagi keahlian dan pengetahuan mereka kepada penduduk lokal setempat," paparnya di gedung Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Salah satu pilot project yang telah dijalankan adalah program wirausaha yang mempertemukan pengungsi dengan wirausahawan Indonesia. Proyek tersebut merupakan kolaborasi antara UNHCR dengan Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO), Universitas Atmajaya, dan Dompet Dhuafa.

"Kami beri dana kepada 14 proposal wirausaha yang bagus untuk bisnis di Indonesia. Kami kemudian menghubungkan mereka dengan pengungsi yang mempunyai bakat dan minat khusus di bidang wirausaha," tutur Vargas.

Dia berharap program tersebut bisa dilanjutkan kembali tahun ini apabila UNHCR mempunyai dana yang cukup. Program tersebut dipandang dapat menjadi win-win solution bagi pengungsi maupun pemerintah setempat.

Gelombang pengungsi menjadi masalah global saat ini, yang penanganannya penuh dengan tantangan. UNHCR mencatat terdapat 25,9 juta pengungsi dan 3,5 juta pencari suaka tersebar di seluruh dunia pada akhir 2018.

Dengan situasi dunia saat ini, termasuk konflik di berbagai belahan dunia, kondisi ekonomi yang buruk di beberapa negara, dan jumlah migrasi yang meningkat, membuat negara-negara yang lazimnya merupakan negara resettlement makin sulit menerima masuk para pengungsi. Di sisi lain, komitmen pendanaan sebagian besar negara donor terhadap penanganan pengungsi terus menurun.

Hingga akhir Mei 2019, Indonesia telah menjadi negara transit bagi 13.997 pengungsi dari 43 negara. Negara resettlement yang mau menerima pengungsi yang transit di Indonesia juga semakin menurunkan kuota resettlement-nya.

Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan Kemenlu Achsanul Habib menilai program pemberdayaan pengungsi merupakan salah satu opsi yang baik. Dengan keahlian baru yang diperoleh, pengungsi akan lebih mudah untuk ditempatkan ke negara penerima pengungsi atau direpatriasi ke negara asalnya.

"Jangka ke depan apakah mereka diberdayakan, punya skill untuk di negara tujuan, punya pekerjaan sehingga negara baru juga merasa punya alat tawar. Dia akan pilih mana yang kira-kira akan bisa langsung ditarik untuk kerja di negaranya," terangnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengungsi
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top