Investor Emerging Market Fokus ke Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global

Pasar negara berkembang (emerging market/EM) diperkirakan mengalihkan fokus mereka ke prospek pertumbuhan global setelah gencatan senjata perdagangan antara Amerika Serikat dan China meredakan risiko perang dingin yang sempat mencuat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  16:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pasar negara berkembang (emerging market/EM) diperkirakan mengalihkan fokus mereka ke prospek pertumbuhan global setelah gencatan senjata perdagangan antara Amerika Serikat dan China meredakan risiko perang dingin yang sempat mencuat.

Para investor menyambut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda tarif baru pada produk impor China dan membuka kembali akses bagi Huawei untuk membeli komponen dari pemasok AS.

Meski demikian, kesepakatan tersebut belum memberikan kejelasan apakah Beijing dan Washington dapat mengatasi perbedaan mereka.

Mencairnya hubungan antara AS dan China memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan global hingga mengangkat beban bank sentral untuk mengeluarkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Namun, menurut Bloomberg Economics tarif exsisting dan ketidakpastian yang masih berlanjut akan tetap menjadi hambatan terhadap pertumbuhan global.

"Mengingat pertemuan itu tidak membahas banyak detil, berat pada optimisme Trump, ditambah dengan komentar China tidak bersemangat, mata uang EM tidak mungkin mendapat manfaat dari gencatan senjata perdagangan kali ini," tulis Jason Daw, Kepala Ahli Strategi Pasar Negara Berkembang di Societe Generale Singapura, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (1/7).

Menurut Daw, risiko  substansial akan tetap ada dalam penetapan harga pasar terkait dengan dua skenario pertumbuhan negatif. Pertama, kebuntuan jangka panjang atau, kedua, tidak ada kesepakatan.  "Dari perspektif taktis, ada kemungkinan akan ada kenaikan jangka pendek yang lebih tinggi dalam dolar AS versus mata uang Asia," ujar Daw.

Data pada Minggu (30/6/2019) dan Senin (1/7/2019) menunjukkan bahwa prospek sektor manufaktur China terus memburuk pada Juni, menyoroti tekanan dari tarif yang dikenakan AS pada bulan sebelumnya pada barang-barang China.

Beberapa data manufaktur akan diawasi oleh investor. Korea Selatan dan Taiwan, ekonomi yang juga bergantung pada kegiatan perdagangan, menunjukkan pembacaan data manufaktur yang sama dengan China.

Ekspor Korea Selatan jatuh selama 7 bulan berturut-turut pada Juni, menyoroti kelemahan yang sedang berlangsung dalam permintaan teknologi dan sensitivitas ekonomi terhadap ketegangan perdagangan global. 

Mata uang dan saham pasar berkembang melonjak pada Juni, kenaikan terbesar sejak Januari, sementara obligasi mata uang lokal menunjukkan kinerja terbaik mereka dalam lebih dari tiga tahun setelah pergantian dovish oleh The Fed dan Bank Sentral Eropa.

Sementara itu, laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat (5/7/2019), kemungkinan akan memberikan petunjuk apakah The Fed akan memangkas suku bunga pada 31 Juli untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

"Selain dari arus berita perang dagang, pendorong utama mata uang EM adalah pertumbuhan dan likuiditas," kata Daw.

Dia menambahkan bahwa suku bunga rendah dapat mencegah pelemahan mata uang yang sementara waktu. Tetapi jika delta pada aktivitas ekonomi tetap negatif, pertumbuhan pada akhirnya harus unggul dalam perang pertumbuhan likuiditas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emerging market, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top