Akademisi : Sulit Berharap Prabowo Akui Kekalahan, Jokowi pun Terbelenggu

Harapan bahwa Prabowo akan mengakui kekalahan dinilai sebagai hal yang sulit terwujud.  Di pihak lain, seperti halnya Prabowo, Jokowi sulit keluar dari belenggu pertarungan massa rakyat dan terutama elite.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  13:32 WIB
Akademisi : Sulit Berharap Prabowo Akui Kekalahan, Jokowi pun Terbelenggu
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) saat bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran keempat d Jakarta, Sabtu (30/3 - 2019).Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, KUPANG - Harapan bahwa Prabowo akan mengakui kekalahan dalam Pilpres 2019 dinilai sebagai hal yang sulit terwujud.  Di pihak lain, seperti halnya Prabowo, Jokowi sulit keluar dari belenggu pertarungan massa rakyat dan terutama elite.

Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona, MA menilai, paslon 02 Prabowo Subianto sedang memainkan langkah untuk menjaga dan merawat massa pendukung untuk kepentingan kontestasi elektoral ke depan.

"Saya melihat, polarisasi yang sedang berlangsug saat ini memang sengaja dijaga dan dikonsolidasikan secara masif, agar massa paslon 02 yang jumlahnya sekitar 44 persen dari 154 juta pemilih itu tetap terjaga dan dirawat militansinya demi kepentingan kontestasi elektoral ke depan," kata Mikhael Bataona kepada Antara di Kupang, Jumat (24/5/2019).

Mikhael mengemukakan hal itu berkaitan dengan situasi politik dan keamanan pascapengumuman hasil Pemilu serentak 2019, dan sikap Prabowo yang mendua dalam mengajukan sengketa hasil Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Latar belakang lain adalah kemungkinan keterbelahan hari ini polanya akan dirawat semirip mungkin, atau bahkan lebih kuat lagi seperti konsolidasi elektoral pasca-Pilpres 2014 silam, lalu memuncak pada Pilgub DKI Jakarta. Seperti diketahui, dalam kasus ini, simbolisasi cebong versus kampret menjadi narasi dan wacana paling dominan di ruang-ruang publik, baik virtual maupun fisik.

Masalah ideologi

Mengenai latar belakang, Mikhael mengatakan masalah ideologi, pandangan politik, juga semacam pengaruh kultur dan latar belakang sejarah, yang tidak bisa dijelaskan hanya dalam satu dua pernyataan hipotetis semata.

Menurut Mikhael butuh kajian-kajian ilmiah yang menyeluruh untuk bisa menyingkap hal ini.

Sejak pemilu tahun 1955, ujarnya, Indonesia sebenarnya sudah terbelah ke dalam banyak sekali ceruk aliran politik. Sehingga, bagi Mikhael, keterbelahan bangsa hari ini tidak sekonyong-konyong datang dari langit.

Sudah ada benih-benuh kulutralnya, bahkan landasan epistemik yang sudah lama mengendap dalam kesadaran rakyat, ujar Mikhael.

Paslon 02 versus paslon 01, lanjut Mikhael, hanyalah saluran yang digunakan untuk mengekspresikan kesadaran politik yang telah lama mengendap tersebut.

Mikhael membenarkan adanya masyarakat yang tidak masuk ke dalam kelompok-kelompok politik aliran. Tetapi yang terbaca hari ini adalah ekspresi identitas masing-masing kelompok, kebanyakan menggunakan alasan-alasan identitas terutama agama dan latar belakang sejarah.

Mikhael berpandangan Prabowo maupun Jokowi berada dalam posisi sangat sulit. Keduanya sangat sulit untuk mengeluarkan diri mereka dari belenggu pertarungan massa rakyat dan terutama elite yang sejak 2014 sudah aktif terlibat dalam pertarungan politik identitas.

"Jadi berharap bahwa Prabowo akan mengakui kekalahan itu sulit. Secara simbolik bisa saja iya. Tapi secara real akan adanya rekonsiliasi hingga ke akar rumput itu saya kira sangat sulit," kata Mikhael.

Persoalannya, kata Mikhael, kelompok kanan dan kelompok tengah atau nasionalis di negeri ini masih menjadi dua pemain utama dalam pertarungan politik sejak tahun 1955.

"Butuh waktu untuk mencapai apa yang terjadi di Eropa misalnya yang sudah cukup liberal dan inklusif dalam politik," kata Mikhael.

Apalagi, tambahnya, saat ini Kapolri sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin Irwasum untuk mengetahui penyebab jatuhnya korban atau sampai adanya kematian dari massa perusuh yang ikut mengacaukan demo kemarin.

Milkhael berpendapat situasinya akan tetap menegangkan karena alat negara dicurigai dan bahkan lembaga negara termasuk penyelenggara pemilu sepertinya didelegitimasi secara sistematis dengan narasi-nerasi politik yang memojokkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup