Antisipasi Dampak Perang Dagang, AS Bakal Kucurkan Bantuan ke Petani

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana memberikan paket bantuan sekitarUS$15 miliar hingga US$20 miliar kepada para petani mereka yang dilanda perang dagang dengan China.
Dika Irawan | 16 Mei 2019 17:31 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana memberikan paket bantuan sekitarUS$15 miliar hingga US$20 miliar kepada para petani mereka yang dilanda perang dagang dengan China.

Sekretaris Menteri Pertanian AS Sonny Perdue, Rabu (15/5/2019) waktu setempat, mengatakan bahwa pihaknya tengah menyelesaikan mekanisme bantuan itu. Kemungkinan, pemerintah akan memprioritaskan para peternak babi dan petani kedelai sebagai penerima bantuan. Sebab, itulah produk-produk pertanian yang paling terpengaruh sengketa dagang China dan Amerika Serikat.

“Saat ini kami sedang mengerjakan detail sumber dana yang kami asumsikan akan mirip dengan [bantuan] lalu dengan Commodity Credit Corporation [CCC],” kata Perdue seperti dikutip dari Reuters, Kamis (16/5/2019).

Sebagai informasi CCC merupakan lembaga pemerintah AS yang bertugas untuk stabilisasi, mendukung, dan melindungi pemasukan dan harga pertanian.

Dua raksasa ekonomi tersebut telah terlibat dalam perang dagang selama 10 bulan. Menelan biaya miliaran dolar AS, perang itu telah membuat rantai pasokan global bergejolak dan pasar keuangan kacau.

Para petani AS, yang turut mengantarkan Donald Trump ke tampuk kursi Presiden AS pada 2016, merupakan salah satu pihak yang paling terpukul dari ribut-ribut sengketa dagang itu.

Pada tahun lalu, Departemen Pertanian AS (US Department of Agriculture/USDA) menjanjikan bantuan hingga US$12 miliar kepada para petani, guna mengganti kerugian panen akibat perang dagang. Pemerintah AS telah mengalokasikan sekitar US$9,4 miliar, dengan US$8,52 miliar pembayaran langsung kepada petani.

Para petani telah komplain tentang lambannya langkah pembayaran dari paket sebelumnya. Batas waktu untuk permohonan pembayaran pun diperpanjang bulan lalu hingga 17 Mei.

AS menaikkan tarif barang-barang China senilai US$200 miliar pada Jumat lalu. Hal itu meningkatkan sengketa perdagangan, saat putaran terakhir perundingan di Washington berakhir tanpa kemajuan. Beijing merespons dengan tarif pembalasan. Eskalasi parang dagang kemungkinan belum berakhir.

Seorang sumber mengatakan, paket bantuan kali ini tampaknya lebih didorong apa yang terjadi dengan China. “Oleh sebab itu, Anda mungkin melihat tingkat pembayaran atau tingkat persentase yang masing-masing komoditas bisa sedikit berbeda,” katanya.  

Kirk Leeds, Kepala Eksekutif Asosiasi Kedelai Iwoa mengatakan, USDA telah mengontaknya dan kelompok tani lainnya terkait paket bantuan tersebut. “Program mereka sebelumnya sangat masuk akal. Antisipasi saya adalah hal itu akan terlihat sangat mirip dengan pembayaran sebelumnya,” katanya.

Pemerintahan Trump menginginkan, kesepakatan perdagangan dengan China untuk memasukkan pembelian lebih dari US$1,2 triliun produk Amerika, termasuk komoditas pertanian dan barang-barang industri.

Kedua negara itu telah berada di jalur kesepakatan, sebelum hubungan kembali memburuk awal bulan ini. Seorang sumber mengatakan, Beijing telah mundur dari serangkaian komitmen, sehingga mendorong Amerika Serikat untuk menerapkan kenaikan tarif.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kedelai kontrak Juli di Chicago Board of Trade menguat tipis 0,30% atau 2,50 poin ke level US$838 per gantang. Namun, sejak awal tahun harga komoditas unggulan AS ini telah amblas 5,04%, dipicu oleh sentimen perang dagang. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup