Tuduh Curang, KPU Tantang Prabowo-Sandi Buka-bukaan Data

Tak biasanya calon wakil presiden Sandiaga Uno menutup pidatonya dengan kalimat takbir. Bukan itu saja, dia bahkan sampai berteriak lantang.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  12:03 WIB
Tuduh Curang, KPU Tantang Prabowo-Sandi Buka-bukaan Data
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy'ari menjawab pertanyaan pers di Jakarta, Selasa (13/11/2018). -Bisnis.com - Samdysara Saragih

Bisnis.com, JAKARTA – Tak biasanya calon wakil presiden Sandiaga Uno menutup pidatonya dengan kalimat takbir. Bukan itu saja, dia bahkan sampai berteriak lantang.

Pada acara Mengungkap Fakta-Fakta Kecurangan Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa (14/5/2019), Sandi di hadapan relawan dan pendukung begitu menggebu-gebu. Gayanya yang sesekali mengajak bicara peserta tidak lupa dilakukan.

Acara itu mengungkapkan temuan-temuan kejanggalan selama pemilu 2019 berlangsung. Pertama, soal daftar pemilih tetap (DPT) aneh dengan jumlah 16,5 juta. 

Temuan ini bermacam-macam mulai dari warga yang lahir pada tanggal yang sama dengan jumlah tak wajar hingga pemilih hantu, karena bukan warga setempat. Data tersebut sudah diungkapkan jauh-jauh hari sebelum pemungutan suara ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tapi hingga pelaksanaan, Koalisi Adil Makmur ini tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Kecurangan lainnya terkait adanya penggunaan aparatur sipil negara (ASN), pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN, gubernur, dan kepolisian. Ini pun sudah dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Hasilnya, mereka mengaku tidak ada kesimpulan yang jelas.

Pemungutan Suara

Dari sisi pemungutan suara, ada dua hal yang disoroti. Pertama, terkait surat suara yang sudah tercoblos di beberapa daerah dan menguntungkan lawan politik Prabowo-Sandi, yaitu Jokowi-Amin.

Terakhir terkait sistem informasi penghitungan (situng) di situs KPU yang berantakan. Ada kesalahan input data, ada pula sistem keamanannya yang sangat rentan disusupi.

Itulah berbagai macam temuan kecurangan yang Prabowo-Sandi dan timnya Badan Pemenangan Nasional (BPN) temukan, yang mereka minta hanya satu, keadilan.

Melihat kondisi tersebut, tentu Prabowo tidak akan tinggal diam. Dia tak mau mengakui kekalahan apabila kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif ini terus dibiarkan tanpa ada kejelasan hukum.

“Kami masih menaruh harapan kepada KPU, tapi sikap saya jelas saya akan menolak hasil penghitungan yang curang. Kami tidak bisa menerima ketidakadilan dan ketidakjujuran dalam penyelenggaraan Pemilu ini,” tergas Prabowo. 

KPU Tantang Prabowo-Sandi

Komisioner KPU Hasyim Asy’asri menantang agar Prabowo-Sandi dan tim untuk buka-bukaan di gedung KPU. Alasannya, saat ini sedang ada rekapitulasi suara tingkat nasional.

“Semua saksi hadir. Jadi tidak hanya di-cross check dengan data yang dipegang oleh masing-masing untuk semua peserta pemilu partai politik maupun apa itu namanya pasangan calon presiden,” jelasnya.

KPU yakin bahwa apa yang sudah dilakukannya terbuka, transparan, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Mereka melakukan proses penghitungan dan pencatatan hasil yang bisa dilihat semua orang.

Apabila ada temuan kesalahan di tempat pemungutan suara (TPS) bisa dikoreksi di kecamatan, jika di tingkat kecamatan ada kekeliruan dapat diperbaiki di kabupaten. Begitu sampai tingkat pusat.

Ketua Bawaslu Abhan menuturkan bahwa harusnya peserta pemilu jika menemukan ada kejanggalan bisa disampaikan di forum tersebut.

“Tapi kalau itu ada mekanisme apa yang bisa dilakukan, ya melalui laporan pelanggaran dugaan administratif pemilu ke Bawaslu atau nanti di MK [Mahkamah Konstitusi],” jelasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kpu, prabowo subianto, Pemilu 2019, Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top