Negosiasi Hari Pertama AS-China Usai, Bagaimana Hasilnya?

Tim perunding perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China baru saja mengakhiri pertemuan hari pertama (Kamis, 9/5/2019) di Washington. Sementara itu, waktu kian berdetik menjelang realisasi rencana pengenaan kenaikan tarif AS terhadap impor China.
Renat Sofie Andriani | 10 Mei 2019 09:11 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 8 Juli 2017. - Reuters/Saul Loeb

Bisnis.com, JAKARTA – Tim perunding perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China baru saja mengakhiri pertemuan hari pertama (Kamis, 9/5/2019) di Washington. Sementara itu, waktu kian berdetik menjelang realisasi rencana pengenaan kenaikan tarif AS terhadap impor China.

Perundingan antara Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin digelar selama 90 menit pada Kamis dan akan berlanjut pada Jumat (10/5).

Tak ada satupun pejabat yang memberikan pernyataan kepada awak media saat perundingan pertama ini usai. Wakil Perdana Menteri Liu He hanya tampak tersenyum dan melambaikan tangan kepada wartawan yang menanti.

Dalam komentarnya kepada media pemerintah China setelah tiba di Washington, Liu mengatakan bahwa akan sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak jika tarif dinaikkan.

“Kami datang di bawah tekanan. Ini menunjukkan ketulusan terbesar China serta keinginan yang tulus, percaya diri, dan rasional untuk menyelesaikan ketidaksepakatan atau perbedaan tertentu yang dihadapi China dan Amerika Serikat. Saya pikir ada harapan,” ungkap Liu, seperti dikutip Reuters.

Ketegangan antara pemerintah AS dan China meningkat setelah kemunduran besar dalam negosiasi pekan lalu ketika China merevisi rancangan kesepakatan dan melemahkan komitmen memenuhi tuntutan AS untuk reformasi perdagangan.

Presiden AS Donald Trump merespons hal tersebut dengan rencana kenaikan tarif sebesar 25 persen dari 10 persen terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar mulai Jumat (10/5) waktu setempat.

Pemerintah China tidak tinggal diam dan menyatakan siap melakukan pembalasan jika rencana kenaikan tarif itu ditindaklanjuti. Perang dagang antara kedua negara yang telah berlangsung selama berbulan-bukan pun kembali memanas.

Sebelum kedua negara kembali ke meja perundingan pada Jumat, Amerika Serikat telah akan menaikkan tarifnya terhadap impor China. Tarif ini berlaku untuk kargo-kargo yang meninggalkan Negeri Tirai Bambu setelah pukul 12 malam (Jumat, 10/5) waktu setempat.

Produk-produk konsumen, termasuk ponsel, komputer, pakaian, dan mainan, akan menjadi objek yang sangat terpukul tarif baru tersebut.

Pada Kamis (9/5), Trump juga menargetkan barang-barang China senilai US$325 miliar yang sejauh ini tidak tersentuh oleh perang dagang dengan tarif sebesar 25 persen.

Trump, yang telah mengadopsi kebijakan proteksionis sebagai bagian dari agendanya "America First" guna menyeimbangkan kembali perdagangan global dan mendorong manufaktur AS, menuding China mengingkari komitmen yang dibuat selama berbulan-bulan negosiasi.

Data yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan defisit perdagangan barang AS dengan China menyusut ke level terkecil dalam lima tahun pada Maret. Ini dapat melecut sikap keras Trump terhadap China. 

Sementara itu, rencana pemerintah AS untuk menaikkan tarif dapat memangkas pertumbuhan China sebesar 0,3 poin. Namun menurut seorang penasihat bank sentral China, ekonomi negeri yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini telah menjadi lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Trump mengatakan jika kedua belah pihak tidak dapat membuat kesepakatan, Amerika Serikat akan kembali membuat produk-produk manufaktur yang saat ini dibuat oleh China.

“Ini akan menjadi cara kuno, seperti yang biasa kami lakukan sebelumnya. Kami membuat produk-produk kami sendiri,” tegas Trump.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup