Inilah Naruhito, Kaisar Baru Jepang Penerus Akihito

Naruhito akan meneruskan takhta Krisantium pada 1 Mei 2019 setelah sang ayah, Kaisar Akihito, mengundurkan diri pada Selasa, 30 April 2019
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 30 April 2019  |  12:58 WIB
Inilah Naruhito, Kaisar Baru Jepang Penerus Akihito
Putra Mahkota Naruhito (kanan) dan Putri Mahkota Masako - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pangeran Naruhito, putra tertua Kaisar Akihito akan memulai era baru kekaisaran Jepang pada Rabu, 1 Mei besok setelah ayahnya turun tahta hari ini, Selasa (30/4/2019).

Gelar Kaisar Reiwa akan disematkan pada nama Hirohito sebagai penanda bahwa era Heisei yang telah berjalan selama 30 tahun sejak Kaisar Akihito naik tahta berakhir.

Hirohito merupakan kaisar ke-126 yang berkuasa atas tahta Krisantium. Nama Reiwa sendiri memiliki makna "beautiful harmony", was taken from Japan's oldest poetry anthology Manyoshu.

Ktaishi Naruhito Shinn, atau lebih dikenal dengan Putra Mahkota Naruhito, lahir pada 23 Februari 1960.

Dia tumbuh besar dengan dua saudaranya, Pangeran Akishino dan Sayako Kuroda di Istana Kekaisaran yang berlokasi di Tokyo.

Naruhito lulus dari Universitas Gakushuin pada 1982 dengan gelar sarjana sejarah. Ia menulis karya tulis tentang transportasi air abad pertengahan untuk tugas akhirnya.

Pada Juli 1983, Naruhito mengikuti tiga bulan pelatihan bahasa Inggris intensif sebelum melanjutkan pendidikan di Merton College, Universitas Oxford.

Pilihan studi di negeri Ratu Elizabeth menjadikan Naruhito anggota keluarga kekaisaran Jepang pertama yang belajar di luar negeri.

Naruhito kemudian mengabadikan pengalamannya selama dua tahun menimba ilmu di Inggris lewat sebuah memoar berjudul Thames to Tomo ni.

Buku yang terbit pada 1993 itu lalu diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh mantan Duta Besar Inggris untuk Jepang Sir Hugh Cortazzi dengan judul The Thames and I: A Memoir of Two Years at Oxford.

Kehidupan pribadi Naruhito dengan istrinya saat ini, Putri Masako berawal ketika keduanya bertemu dalam sebuah jamuan teh yang digelar Putri Elena dari Spanyol pada November 1986.

Naruhito disebut-sebut langsung tertarik dengan perempuan yang bernama asli Masako Owada tersebut dan mengatur pertemua-pertemuan selanjutnya.

Masako bukan sekadar penduduk sipil biasa, ia adalah anak perempuan tertua dari diplomat senior Jepang Hisashi Owada yang pernah menjabat sebagai hakim Mahkamah Internasional.

Karier sang ayah di dunia hubungan internasional pun diikuti oleh Masako. Ia tercatat lulus dari Universitas Harvard di bidang ekonomi dengan predikat magna cum laude.

Masako lalu menyelesaikan pendidikan pascasarjana hubungan internasional di Balliol College, Universitas Oxford dan sempat belajar hukum di Universitas Tokyo dalam rangka persiapan ujian masuk Kementerian Luar Negeri Jepang.

Karier cemerlang di Kementerian Luar Negeri Jepang membuat Masako sempat enggan menikah dengan Naruhito.

Salah satu alasannya adalah larangan keterlibatan keluarga kerajaan dalam urusan politik. Menyandang status istri Naruhito sama artinya dengan melepas kariernya sebagai diplomat.

Namun Masako akhirnya memilih untuk mengiyakan lamaran Naruhito pada 1992.

Ketika keluarga Kekaisaran Jepang mengumumkan pertunangan mereka pada Januari 1993, Masako, sebagaimana dikutip The New York Times, mengatakan bahwa Naruhito telah meyakinkannya untuk memilih jalan hidup tersebut.

"Ia berkata dia akan melindungi saya seumur hidupnya," kenang Masako.

Keduanya resmi menikah pada 9 Juni 1993 dan Masako kemudian memperoleh gelar Putri Mahkota Masako. Keduanya dikaruniai seorang putri pada pada 1 Desember 2001 yang kemudian dinamai Aiko.

Tidak seperti Kerajaan Inggris yang memperkenankan perempuan meneruskan takhta kerajaan, Hukum Rumah Tangga Kekaisaran Jepang hanya memperkenankan keturunan lelaki langsung.

Mengingat bahwa Putri Aiko merupakan satu-satunya keturunan langsung Hirohito, penerus tahta selanjutnya dipegang oleh adik lelaki Hirohito, Pangeran Akishino yang diikuti oleh putranya, Pangeran Hisahito yang kini berusia 12 tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, Kaisar Jepang

Sumber : The New York Times, The Time

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top