LAPORAN DARI BEIJING : Luhut Pastikan Proyek OBOR China Tak Tambah Utang

Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan Cina One Belt One Road atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor siap dilaksanakan.
Feni Freycinetia Fitriani | 27 April 2019 15:43 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) memimpin delegasi Indonesia melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping (tidak tampak) dan jajaran pejabat pemerintah setempat di Balai Agung Rakyat, Beijing, Kamis (25/4/2019). - Reuters

Bisnis.com, BEIJING - Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan China One Belt One Road atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor siap dilaksanakan.

Hal itu ditandai dengan ditekennya 23 Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/Mou) antara pebisnis Indonesia dan China setelah pembukaan KTT Belt and Forum Kedua di Beijing, Jumat (26/4/2019).

Dari 23 proyek yang diteken, nilai investasi dari 14 MoU bernilai total US$14,2 miliar. Meski demikian, Luhut menegaskan bahwa nilai tersebut bukanlah hutang yang harus ditanggung pemerintah.

"Kita [proyek Empat Koridor Belt and Road] hampir tidak ada urusan pada debt atau utang nasional," katanya, Sabtu (27/4/2019).

Hal itu bisa terjadi karena hampir semua proyek yang termasuk dalam Koridor Belt and Road sifatnya business to business (B to B), bukan governor to governor (G to G).

Karena itu, Luhut mengatakan pihaknya akan berusaha maksimal untuk mempermudah perizinan kepada pengusaha Cina yang berminat menanamkan modal di Indonesia.

Sebelumnya, Wapres RI Jusuf Kalla mengatakan pemerintah Indonesia juga mendukung investasi dari Negeri Tirai Bambu yang dipayungi program jalur sutra abad 21 atau Belt and Road.

Hal itu disampaikan JK ketika bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di The Great Hall of People di Beijing. Meski demikian, JK menegaskan Indonesia tetap memegang kendali dan tidak bisa didikte oleh pihak luar.

"Indonesia sangat mendukung pertemuan Belt and Road Forum, tetapi ownership-nya tetap Indonesia. Tidak semuanya Belt and Road, tergantung kerja sama," ujarnya.

Menurutnya, masuknya investasi asal China melalui Program Sabuk dan Jalur (Belt and Road) akan meningkatkan investasi China ke Indonesia.

Pasalnya, proyek yang masuk berjenis business to business (B to B). Apalagi, saat ini investasi asal China dan Hong Kong bertengger di posisi satu.

"Total investasi asal China dan Hong Kong sekarang sudah peringkat satu mengalahkan Singapura. Ini artinya hubungan dagang Indonesia-China besar sekali," lanjutnya.

Proyek OBOR yang digagas oleh Presiden China Xi Jinping menuai kritik dari beberapa pihak. Pengamat dan negara penerima donor mengungkapkan proyek infrastruktur jalur sutra modern juga menjadi "jebakan utang", khususnya bagi negara berkembang.

Seperti diketahui, porsi utang Indonesia pada akhir November 2018 semakin bertambah. Posisi ULN Indonesia tercatat US$ 372,9 miliar atau meningkat dibandingkan Oktober 2018 yang mencapai US$ 360,5 miliar.

Jika menggunakan asumsi kurs Rp 14.100/US$, maka posisi ULN Indonesia di akhir November 2018 setara dengan Rp 5.257 triliun. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, jusuf kalla, Luhut Pandjaitan

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top