Prabowo Tolak Bertemu Luhut, Pengamat : Terlalu Pagi Buat Rekonsiliasi

Uaya rekonsiliasi kedua kubu Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 masih terlalu pagi untuk dilakukan.
Aziz Rahardyan | 21 April 2019 15:31 WIB
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto seusai mengikuti debat kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Debat kelima tersebut mengangkat tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi serta Perdagangan dan Industri. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat Politik Indonesia Political Review Ujang Komarudin berpendapat bahwa upaya rekonsiliasi kedua kubu Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 masih terlalu pagi untuk dilakukan.

Sebelumnya, capres petahana Joko Widodo seusai menghadiri pertemuan dengan para petinggi parpol koalisinya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019), mengaku telah mengutus seseorang untuk menemui capres nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk mengagendakan pertemuan atau komunikasi.

Kendari demikian, Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkap lewat akun Twitter resminya bahwa Prabowo belum mau menerima utusan Jokowi, yakni Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

"Sampai dengan malam ini, Pak @prabowo belum dan tdk memutuskan menerima utusan Pak Jokowi yakni Pak Luhut untuk bertemu beliau di Kertanegara, Pak Prabowo masih Fokus memperjuangkan dan mengawal agar rakyat terus mengawal C1," tulis Dahnil, Sabtu (20/4/2019) pukul 07.20 malam.

Menanggapi hal tersebut, Ujang justru menganggapnya wajar. Sebab, walaupun hari H pemungutan suara telah dilewati, pemenang Pilpres belum ditetapkan. Sehingga kontestan tentunya masih perlu menganggap proses Pemilu belum usai.

"Bisa dimaklumi. Sebab Pemilu belum selesai," ujar akademisi Universitas Al-Azhar Indonesia ini kepada Bisnis, Minggu (21/4/2019).

"Proses Pemilu belum selesai karena belum ada pengumuman resmi dari KPU. Pengumuman dan Penetapan Pilpres baru akan dilakulan tanggal 22 Mei nanti. Memang Jokowi dan utusannya harus bersabar hingga ada pemenang resmi yang akan diumumkan KPU," tambahnya.

Menurut Ujang, proses rekonsiliasi memang harus dilakukan secepat mungkin. Tetapi, pemilihan waktunya harus tepat agar kondisi politik bisa kembali kondusif.

"Yang tepat memang pascapenetapan pemenang Pilpres. Kubu Prabowo pasti sedang menunggu hasil perhitungan dan pengumuman KPU. Setelah itu baru bicarakan rekonsiliasi," jelasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup