Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Saudara di Libya, Pemberotak GNA Tembak Jatuh Pesawat Jet LNA

Pasukan yang setia kepada pemerintah Libya menembak jatuh sebuah jet tempur milik pasukan di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar. Sedangkan pada hari yang sama pemimpin militer pemberontak mengadakan pembicaraan dengan presiden Mesir di Kairo.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 15 April 2019  |  08:33 WIB
Tentara Nasional Libya di bawah pimpinan pemberontak Jendral Khalifa Haftar terlihat meninggalkan Benghazi pada hari Minggu 7 April 2019 untuk bergabung dengan pasukannya guna menggempur Tripoli. - Reuters/Esam Omran Al Fetori
Tentara Nasional Libya di bawah pimpinan pemberontak Jendral Khalifa Haftar terlihat meninggalkan Benghazi pada hari Minggu 7 April 2019 untuk bergabung dengan pasukannya guna menggempur Tripoli. - Reuters/Esam Omran Al Fetori

Bisnis.com, JAKARTA - Pasukan yang setia kepada pemerintah Libya menembak jatuh sebuah jet tempur milik pasukan di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar. Sedangkan pada hari yang sama pemimpin militer pemberontak mengadakan pembicaraan dengan presiden Mesir di Kairo.

Sumber-sumber militer dalam Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB mengatakan, jet yang dioperasikan oleh Tentara Nasional Libya (LNA) jatuh pada hari Minggu (14/4/2019) di pinggiran selatan Tripoli. Pesawat itu jatuh saat berjuang untuk merebut ibukota.

LNA mengkonfirmasi salah satu jet tempur LNA miliknya ditembak jatuh, namun mengakui pilot pesawat berhasil "melarikan diri".

Pasukan pro-pemerintah mengatakan mereka tengah mencari sang pilot.

Jatuhnya jet tempur LNA terjadi setelah pasukan Haftar meningkatkan serangan udara terhadap pasukan pro-GNA dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari serangan yang diluncurkan pada 4 April untuk merebut kendali ibukota.

"Pesawat-pesawat tempur Haftar telah menargetkan beberapa lokasi di dalam dan sekitar Tripoli dan juga pesawat-pesawat tempur. GNA telah menargetkan lokasi-lokasi Haftar di selatan Tripoli," kata Abdelwahed sebagaimana dikutip Aljazeera.com, Senin (15/4/2019).

Libya, yang telah terperosok dalam kekacauan sejak penggulingan penguasa Muammar Gaddafi yang didukung NATO pada tahun 2011, telah dipecah menjadi dua bagan pemerintahan di timur dan di barat sejak 2014.

Pada bulan Maret 2016, kepala GNA Fayez al-Sarraj tiba di Tripoli untuk membentuk pemerintahan baru, tetapi pemerintahan sekutu Haftar di kota Tobruk timur menolak untuk mengakui otoritasnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timur tengah libya
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top