Toyota Akan Bebaskan Royalti Hak Paten Kendaraan Hibrida

Toyota Motor Corp akan menawarkan akses hak paten gratis terhadap kendaraan hibrida milik mereka hingga tahun 2030.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 03 April 2019  |  17:59 WIB
Toyota Akan Bebaskan Royalti Hak Paten Kendaraan Hibrida
Toyota Corolla Hybrid G. - Toyota

Bisnis.com, JAKARTA - Toyota Motor Corp akan menawarkan akses hak paten gratis terhadap kendaraan hibrida milik mereka hingga tahun 2030.

Ini merupakan upaya perusahaan asal Jepang tersebut untuk memperluas penggunaan teknologi rendah emisi karbon, bahkan ketika industri global sepenuhnya bergeser ke arah mobil listrik.

Janji salah satu produsen mobil terbesar dunia untuk memberikan akses terhadap hak paten yang sebelumnya sangat dijaga ketat, dalam kali kedua perusahaan membuka akses atas teknologi mereka, ditujukan untuk mendorong industri untuk menggunakan teknologi hibrida dan menangkis tantangan kendaraan listrik bertenaga baterai (electric vehicle/EV).

Toyota menyampaikan pihaknya akan memberikan lisensi pada hampir 24.000 hak paten pada teknologi yang digunakan untuk Prius, mobil hijau' pertama di dunia yang diproduksi secara massal, dan menawarkan untuk memasok komponen kepada pesaing termasuk mesin motor, konverter daya, dan baterai yang digunakan dalam kendaraan rendah emisi.

"Kami ingin lebih dari sekadar memproduksi kendaraan jadi," ujar Wakil Direktur Eksekutif Toyota, Shigeki Terashi, kepada wartawan, seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (3/4).

"Kami ingin berkontribusi pada peningkatan penggunaan mobil listrik dengan menawarkan tidak hanya teknologi kami tetapi juga komponen dan sistem kami yang eksisting kepada pembuat kendaraan lain," tambahnya.

Kabar bahwa Toyota berencana untuk memberikan akses bebas terhadap royalti atas hak paten kendaraan hibrida milik mereka pertama kali disampaikan oleh Nikkei Asian Review.

Terashi mengatakan bahwa akses ini tidak termasuk untuk hak paten atas teknologi baterai lithium-ion.

Langkah Toyota untuk memberikan akses terhadap patennya menggarisbawahi keyakinannya bahwa teknologi hibrida adalah alternatif yang efektif untuk semua EV bertenaga baterai.

Apalagi, kendaraan hibrida mampu menciptakan efisiensi bahan bakar kira-kira dua kali lipat dari mobil bensin, biaya lebih rendah serta mereka tidak perlu membebani infrastruktur.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 80 persen kendaraan hibrida di pasar global merupakan produk dari Toyota.

“Toyota telah menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan dengan menahan teknologi hibrida mereka selama bertahun-tahun dari publik, ”kata Janet Lewis, kepala riset transportasi Asia di Macquarie Securities.

"Toyota sendiri tidak bisa memaksa pasar untuk menerima teknologi baru ini, tetapi jika perusahaan lain menggunakannya, itu menawarkan peluang ekspansi terbaik," tambahnya.

Sejak memelopori Prius pada tahun 1997, Toyota telah menjual lebih dari 13 juta kendaraan hibrida.

Prius menggunakan dua jenis mesin yakni mesin bensin konvensional dan motor listrik, sehingga dapat menghemat bahan bakar dengan menangkap energi selama bergerak dan memecah serta menggunakannya untuk menyalakan motor.

Menurut LMC Automotive, kendaraan hibrida mewakili 3 persen dari seluruh kendaraan yang terjual secara global, melampaui sekitar 1,5 persen dari semua EV bertenaga baterai.

Para produsen mobil global telah berjanji untuk mempromosikan kendaraan berteknologi hibrida bersamaan dengan semakin banyak negara mulai memangkas lebih dari setengah batas maksimum emisi kendaraan hingga 2030.

Meski demikan, beberapa pihak mengatakan pergeseran ke EV akan membutuhkan waktu lama karena harga baterai yang mahal.

Lewis di Macquarie mengatakan para pembuat mobil di China dan Eropa mungkin ingin mengakses hak paten kendaraan hibrida Toyota ketika mereka mencari mobil dengan emisi lebih rendah untuk dijual di kota-kota kecil di mana harga EV yang mahal berada di luar jangkauan banyak pengemudi.

Toyota juga terus mengembangan kendaraan sel bahan bakar hidrogen (FCVs) sebagai kendaraan nol-emisi pamungkas, dan sebagai hasilnya, teknologi ini telah menghambat banyak saingannya dalam memasarkan EV.

Pada 2015, Toyota mengatakan akan membukan akses paten atas FCV sampai dengan 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
toyota, mobil hybrid

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top