Tanri Abeng di Mata JK : Kebanggaan Bugis yang Sempat Akan Diperkarakan Orang

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai Tanri Abeng sebagai tokoh yang mempelopori profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan di Indonesia.
Anggara Pernando | 16 Maret 2019 00:39 WIB
Tanri Abeng saat berdiskusi soal Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) di kediaman KH. Ma'ruf Amin, di Jalan Situbondo, Menteng, Selasa (12/2/2019). - Doc humas

Bisnis.com, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Tanri Abeng sebagai tokoh yang mempelopori profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan di Indonesia.

Dalam sambutannya atas peluncuran Buku 50 Tahun Kinerja Profesional Tanri Abeng, JK menyebutkan 30 tahun - 40 tahun lalu, profesionalisme belum terlalu ditonjolkan dalam korporasi Indonesia.

Tanri yang saat ini menjabat Komisaris Utama Pertamina menjadi pelopor profesionalisme dalam hal mengelola perusahaan baik itu BUMN maupun swasta. 

"Masih ingat 30-40 tahun yang lalu? Pada saat itu profesionalisme belum terlalu ditonjolkan, dikenal. Kemudian orang mengenang Tanri Abeng yang disebut manager Rp1 miliar [karena menerima biaya transfer atas profesionalisme yang dijalankannya]," kata Jusuf Kalla di Jakarta, Jumat (15/3/2019). 

Jusuf Kalla menyebutkan Tanri juga merupakan kebanggan bagi orang Bugis, pasalnya Tanri telah menjadi direksi perusahaan multinasional dan menjalankan operasi bisnisnya dari Singapura.

"Karena dia terkenal di perusahaan terbaik di Singapura. Saya pernah datang ke Singapura. Ketemu. Ada orang Bugis satu jadi direktur di Singapura. Bangga juga kita kan zaman itu," kata JK. 

Lebih lanjut JK juga memuji langkah berani Tanri dalam mengelola bisnis ketika menjadi Menteri BUMN pertama. Saat Indonesia tengah dirundung permasalahan ekonomi dan kekacauan sosial Tanri mengambil keputusan yang dinilai sekarang bukan sebagai pilihan yang paling baik.

"Ini [keputusan dalam krisis] sering disalahpahami orang. Bahwa Tanri itu menteri pada saat krisis. Sehingga kadang-kadang tindakan-tindakan masa kritis itu ya tindakan di masa krisis. Tidak bisa dipersamakan dengan zaman normal," kata JK.

JK menyebutkan saat krisis Tanri mampu menggerakkan investasi di pelabuhan dengan mendatangkan investasi dari luar. Akan tetapi keputusan saat krisi itu kemudian mau diperkarakan.

"Saya bilang ini [krisis] bukan zaman normal, tahun 1998 itu. Modal kita di mana? Mesti modal dari luar. Untuk masuk utang aja kita semuanya. Apa lagi menjalankan BUMN dan bangun pelabuhan seperti itu," kenang JK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jusuf kalla, Tanri Abeng

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top