Ekonomi China Mulai Menguat Mulai Semester II/2019

Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan menguat pada semester dua tahun ini berkat kebijakan stimulus yang dilakukan oleh pemerintah Beijing.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  15:15 WIB
Ekonomi China Mulai Menguat Mulai Semester II/2019
ertumbuhan ekonomi China akan menguat pada semester dua tahun ini. - .ilustrasi/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan menguat pada semester dua tahun ini berkat kebijakan stimulus yang dilakukan oleh pemerintah Beijing.

Pada pertemuan di parlemen Jepang, Kuroda mengatakan bahwa ekonomi China melambat secara signifikan pada semester dua tahun lalu akibat ketegangan dagang dengan Amerika Serikat yang memberikan dampak pada kegiatan produksi di dalam negeri.

"Ekonomi China mungkin tetap lemah di paruh pertama tahun ini, tetapi kemungkinan akan meningkat setelahnya karena otoritas telah mengambil tindakan stimulasi fiskal dan moneter," ujar Kuroda seperti dikutip melalui Reuters pada Rabu (26/2/2019).

Komentar Kuroda didukung oleh perkiraan ekonom Bloomberg yang memperkirakan bahwa China mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal setelah perlambatan ekonomi selama berbulan-bulan, diikuti oleh penguatan pada saham dan komoditas.

Stok dan komoditas utama memimpin penguatan serta peningkatan kepercayaan diri perusahaan kecil menjadi pendorong pemulihan ekonomi.

Pada saat yang sama indikator inflasi, perdagangan dan sentimen penjualan menunjukkan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa China telah mencapai titik terendah.

"Pasar didorong oleh Bank Sentral China dan kebijakan pelonggaran moneter mereka serta perpanjangan proses negosiasi perundingan perdagangan dengan AS yang memberikan pasar ruang untuk bernafas," ujar Ekonom Bloomberg David Qu.

Pekan ini, saham China melonjak sementara yuan yang diperdagangkan di luar negeri menguat pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dia sepakat untuk memperpanjang tenggat waktu kenaikan tarif produk China yang dijadwalkan pada 1 Maret 2019.

Perkembangan dari sejumlah isu yang sempat menyandera ekonomi China juga mampu meredakan beberapa dampak suram yang melanda ekonomi global selama beberapa bulan terakhir.

"Reli saham China mungkin meningkatkan kepercayaan konsumen namun masih terlalu dini untuk mengatakan jika hal ini memberi keuntungan signifikan pada kegiatan ekonomi," kata Qu.

Langkah-langkah stimulus termasuk menyalurkan kredit ke perusahaan swasta dan meningkatkan pembangunan infrastruktur sudah menunjukkan efek, dengan pinjaman baru mencapai rekor dan ekspor meningkat pada Januari.

Menurut Qu, kebijakan moneter akan tetap mendukung ekonomi dan kebijakan fiskal seperti pemotongan pajak, peningkatan pengeluaran dan penjualan obligasi khusus akan menguat tahun ini.

Kepala Ekonom Goldman Sachs Group Inc. Jan Hatzius mengatakan output dunia mungkin sudah mencapai titik terendah namun ini justru dapat memperkuat perkiraan pertumbuhan China.

Sementara itu, Shen Lan, ekonom Standard Chartered di Beijing, mengatakan bahwa dukungan kebijakan yang ditargetkan oleh otoritas untuk memenuhi kebutuhan pembiayaa bagi perusahaan kecil juga mulai dilaksanakan.

"Kami mengharapkan langkah kebijakan berkelanjutan untuk meningkatkan transmisi kebijakan moneter dan menurunkan biaya pendanaan untuk ekonomi riil China," tulisnya sebuah catatan.

Mengesampingkan optimisme, ekonomi China masih diambang pelemahan. World Economics Ltd. menuliskan indeks yang didasarkan pada survei terhadap penjualan (sales manager) tetap berada pada tingkat terendah, hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus turun.

Pergerakan inflasi manufaktur tetap lemah sementara permintaan global masih menjadi hambatan bagi negara pengekspor terbesar dunia.

Pengiriman keluar dari Korea Selatan, negara pemasok komponen utama untuk perakit elektronik di China seperti iPhone, turun 11,7% secara tahuanan pada hari ke-dua puluh bulan lalu.

Indeks yang biasanya fluktuatif telah menunjukkan penurunan dalam perdagangan elektronik dunia dalam beberapa bulan terakhir.

Data ekonomi resmi pertama untuk Februari, indeks pembelian untuk sektor manufaktur dan non-manufaktur, akan dirilis Kamis (28/2) pagi di Beijing.

Menurut sejumlah ekonom yang disurvei oleh Bloomberg pada Selasa (26/2), indikator manufaktur mungkin akan turun lebih jauh disusul dengan penurunan pada sektor jasa dan konstruksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boj, ekonomi china

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup