Holiday Sales Beri Sinyal Positif Untuk Industri Ritel AS

Korporasi ritel Walmart Inc. mencatatkan realisasi positif penjualan pada masa libur panjang atau holiday sales di penjuru Amerika Serikat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  15:02 WIB
Holiday Sales Beri Sinyal Positif Untuk Industri Ritel AS
Walmart - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Korporasi ritel Walmart Inc. mencatatkan realisasi positif penjualan pada masa libur panjang atau holiday sales di penjuru Amerika Serikat.

Investor dan analis Wall Street memperkirakan konsumsi AS akan melambat tahun ini dengan latar belakang meningkatnya utang negara, pengetatan tarif perdagangan, dan ketidakpastian ekonomi. 

Realisasi dari penjualan Walmart memberikan ketenangan bagi pasar namun sejumlah keraguan tetap ada.

Pemilik saham Walmart Charles Sizemore, yang merupakan pendiri Sizemore Capital Management LLC mengatakan bahwa industri ritel dan konsumsi negara tahun ini akan sedikit mengalami hambatan.

"Contoh hambatan besar adalah kredit macet di sektor otomotif yang meningkat . konsumen mungkin mengalami masa sulit, perlu diingat 2008 merupakan awal dari perlambatan ekonomi global," katanya seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (20/2/2019).

Penjualan online Walmart melonjak 43% pada kuartal yang berakhir pada 31 Januari 2019, terutama didorong oleh perluasan program pick-up belanja online ke lebih dari 2.100 toko Walmart pada akhir tahun.

Saham perusahaan ritel terbesar di dunia tersebut tercatat naik sebesar 2,2% pada Selasa (19/2), sehingga pertumbuhan saham sepanjang tahun ini telah mencapai 9,7%.

Pertumbuhan holiday sales Walmart, dan saingannya Target Corp., yang melonjak secara tak terduga mencerminkan kesehatan finansial konsumer AS karena belanja masyarakat masih kuat.

Realisasi penjualan Walmart, tanpa mencantumkan penjualan bahan bakar, pada kuartal keempat yang berakhir pada 31 Januari 2018 tercatat tumbuh sebesar 4,2%.

Penjualan bahan makanan hingga saat ini menyumbang 56% dari total pendapatan perusahaan.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Refinitiv, pencapian tersebut berhasil melampaui perkiraan analis yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 2,96%.
 
Penjualan didukung oleh program kupon makanan (food stamp) yang didistribusikan oleh pemerintah selama shutdown berlangsung selama kurang lebih 35 hari.

Di sisi lain, penjualan online Walmart tumbuh sebesar 43%. 

Chief Executive Officer Walmart Doug McMillon mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh variasi produk yang tersedia di website, pembaharuan sistem pengiriman barang, serta program belanja onlilne untuk produk domestik.

Tetapi perusahaan menegaskan bahwa pihaknya memperkirakan kerugian e-commerce akan meningkat tahun ini karena sejumlah rencana investasi yang akan dilakukan korporasi.

Saat ini kami lebih fokus kepada meningkatkan jumlah konsumen yang kembali untuk berbelanja serta memperluas variasi produk," ujar McMillon melalui telekonferensi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
walmart

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top