Negosiator Brexit Kebut Susun Kesepakatan Baru

Otoritas Inggris dan Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan pernyataan resmi atau legal text terbaru yang mengangkat tentang bagian kesepakatan Brexit paling kontroversial.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  10:52 WIB
Negosiator Brexit Kebut Susun Kesepakatan Baru
Brexit. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Inggris dan Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan pernyataan resmi atau legal text terbaru yang mengangkat tentang bagian kesepakatan Brexit paling kontroversial.

Namun, waktu bagi Perdana Menteri Inggris Theresa May semakin menipis dalam upaya membujuk parlemen yang terpecah belah agar bersatu untuk mendukung rencananya.

Masih dipusingkan dengan konsesi yang tengah berlangsung antara para menteri, tujuh anggota parlemen memutuskan untuk meninggalkan Partai Buruh sehingga menciptakan lanskap politik yang mempersulit PM May.

Dia juga harus menghadapi sejumlah anggota kabinet yang terus menekan dirinya untuk mengambil risiko dari no-deal Brexit.
Perpecahan dan ketidakpastian ini kembali menimbulkan prospek penundaan Brexit.

"Saat ini semuanya ada di tangan Tuhan, kita seperti sedang berada di pengadilan atau di laut lepas. Tidak ada yang pasti," ujar Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Junker kepada media Jerman, Stuttgarter Zeitung, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (19/2/2019).

Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa dalam lima pekan namun hingga saat ini belum ada kesepakatan yang dicapai terkait syarat kegiatan perdagangan pasca Brexit.

Jika tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum batas waktu 29 Maret 2019, para ekonom memperkirakan dampak yang cukup besar terhadap ekonomi Inggris. Termasuk pelemahan poundsterling hingga 25%, penurunan harga rumah hingga 30% dan kemungkinan resesi.

Adapun, pada Senin (19/2), Sekretaris Brexit May Stephen Barclay dan Jaksa Agung Geoffrey Cox bertemu dengan para pejabat Uni Eropa di Brussels, dalam upaya untuk mencapai kompromi.

Orang-orang yang bekerja dengan PM May mengatakan sang perdana menteri memiliki waktu hingga 27 Februari untuk mengantongi kesepakatan yang lebih baik sebelum parlemen kehabisan kesabaran dan suara untuk mengendalikan proses pelepasan Inggris dari blok ekonomi Eropa tersebut.

Menurut seorang narasumber, Barclay dan Cox akan kembali ke Brussels pada hari Rabu (20/2). Mereka akan membahas isi susunan legal text dengan kata-kata yang tepat dan menggambarkan jaminan terbaru pada bagian kontroversial dari isi kesepakatan yakni Irish backstop, parlemen Inggris menolak adanya batas fisik antara Inggris dan Irlandia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top