Nasabah Kaya DBS Group Makin Aktif Dalam Kegiatan Trading

Bos DBS Group Holdings Ltd. mengatakan nasabah kaya semakin aktif dalam kegiatan trading setelah sempat mengalami penurunan akibat ketidakpastian pasar pada kuartal keempat tahun lalu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  17:23 WIB
Nasabah Kaya DBS Group Makin Aktif Dalam Kegiatan Trading
ilustrasi - Bloomberg.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Bos DBS Group Holdings Ltd. mengatakan nasabah kaya semakin aktif dalam kegiatan trading setelah sempat mengalami penurunan akibat ketidakpastian pasar pada kuartal keempat tahun lalu.

"Orang-orang seperti membeku [tidak melakukan investasi] karena aksi jual di pasar ekuitas akhir tahun lalu," ujar CEO DBS Group Piyush Gupta, seperti dikutip Bloomberg, Senin (18/2/2019).

DBS Group Holding Ltd. mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10% menjadi 1,32 miliar dolar Singapura atau senilai US$972 juta pada kuartal yang berakhir 31 Desember 2018.

Pendapatan dari unit bisnis wealth management mengalami penurunan terendah dalam waktu dua tahun dimana bank terbesar di Asian Tenggara ini mengalami dampak guncangan pasar seperti yang dialami oleh perbankan raksasa lainnya yakni UBS Group AG and Credit Suisse Group AG.

"Biaya atau fee pengelolaan kekayaan di Asia cenderung mengikuti sentimen pasar dan kadang tidak teratur. Perbaikan kondisi pasar kuartal pertama tahun ini telah kembali memberikan efek terhadap biaya," tambahnya.

Saham perusahaan mencatatkan kenaikan karena investor yang cukup percaya diri bahwa DBS akan terus mendapat keuntungan dari pertumbuhan kredit dan tingkat bunga kredit tinggi meskipun ada potensi risiko dari perang dagang AS - China.

Faktor ini membantu perusahaan untuk melewati masa sulit di akhir tahun lalu.

Tahun ini, pipeline kredit DBS terlihat cukup baik, selain itu Gupta juga mengatakan perkiraan suku bunga sedikit lebih berisiko tahun ini namun margin bunga bersih akan tetap melebar bahkan setelah The Fed memberikan sinyal untuk menunda pengetatan moneter.

Menurut Gupta, perubahan kebijakan The Fed secara tiba-tiba akan memberikan tantangan besar bagi bisnis perbankan.

Di tengah ketidakpastian pasar, operasi trading yang dilakukan oleh DBS mencatat kerugian sebelum pajak sebesar 54 juta dolar Singapura atau sebesar US$40 juta.

Menurut Gupta, realisasi pada kuartal kedua tahun lalu merupakan kondisi tersebut merupakan yang terburuk sejak dia bergabung di perusahaan satu dekade lalu.

Secara terpisah, Gupta mengatakan DBS saat ini tengah melakukan diskusi tentang pembentukan kemitraan bisnis sekuritas dengan China dan mengharapkan dapat menandatangani kesepakatan kerja tahun ini.

Dia mengatakan proses penyusunan izin dan regulasi yang harus diikuti merupakan proses yang sangat panjang.

"Kami secara aktif terus berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk menyatukan ide terkait bisnis sekuritas ini," kata Gupta.

Dengan berfokus ada kawasan pusat ekonomi Greater Bay yang masih dalam tahap pengembangan, perusahaan mengatakan akan terus mendukung ekspansi perusahaan China ke luar negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dbs group

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top