Saudi Minati Bus Karoseri Indonesia untuk Transportasi Haji

Bus produk karoseri Indonesia diminati oleh perusahaan jasa transportasi di Arab Saudi untuk digunakan sebagai sarana transportasi haji.
Denis Riantiza Meilanova | 08 Februari 2019 08:31 WIB
Ilustrasi-jemaah calon haji - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Bus produk karoseri Indonesia diminati perusahaan jasa transportasi di Arab Saudi untuk digunakan sebagai sarana transportasi haji.

Hal ini disampaikan oleh Konjen RI di Jeddah Hery Saripudin saat berkunjung ke Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Kamis (7/2/2019).

“Salah satu perusahaan jasa transportasi besar di Arab Saudi akan menggunakan bus-bus produk karoseri Indonesia. Dalam waktu dekat perwakilan perusahaan tersebut akan segera melakukan penjajakan kerja sama pengadaan bus dengan dua karoseri terkemuka di Indonesia,” kata Hery dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Jumat (8/2/2019).

“Kadin Arab Saudi membuka peluang besar investasi berbagai bidang dalam menunjang penyelenggaraan haji. Ada peluang besar perusahaan Arab Saudi bekerjasama dengan pemodal asing termasuk Indonesia."

Menurut Hery, penyelenggaraan haji dan umrah sangat berpotensi meningkatkan perdagangan Indonesia dan Arab Saudi. Oleh karena itu, setiap tahun KJRI menggelar pameran produk Indonesia di Arab Saudi untuk menunjang penyelenggaraan haji dan umrah. Pameran itu, kata Hery, bertujuan mengenalkan produk pangan dari Indonesia dan terbukti membukukan transaksi yang cukup besar.

“Harapan kami supaya penyelenggaraan haji dan umrah memiliki dampak lebih luas di luar sisi ibadah. Seperti menunjang perdagangan antara Indonesia dan Arab Saudi,” ujarnya. “Ada potensi ekonomi dan perdagangan yang besar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pasca pameran telah terjadi kesepakatan dagang seperti komponen perlengkapan perhotelan, penjajakan pengadaan bus produk Indonesia, dan produk pangan."

Hery mengaku tahun lalu ada produk Indonesia berupa kecap, kopi, dan teh yang tertahan dan tidak dapat keluar dari pelabuhan dan bandara. Hery meyakinkan bahwa itu sudah diantisipasi untuk tahun ini dengan pengurusan izin masuk produk lebih awal.

“Agar produk kita mudah masuk ke Arab Saudi memang perlu strategi pengadaan, koordinasi dan kerjasama antar instansi, memahami skema pengadaan barang di Arab Saudi, dan beberapa hal lainnya,” lanjut Hery.

Hery menuturkan perlunya Indonesia belajar dari China. Dia mengatakan bahwa 90% kain ihram dan cinderamata seperti mainan dan tasbih yang beredar di Arab Saui merupakan produk negeri tirai bambu.

 

Tag : Ibadah Haji, menteri agama
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top