Soal Ekonomi Halal, Ini Cerita Ma'ruf Amin Kibarkan Merah-Putih di Korea

Pertarungan gagasan kedua calon wakil presiden yang saling lempar wacana membawa Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia, kini masih berlanjut.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  12:31 WIB
Soal Ekonomi Halal, Ini Cerita Ma'ruf Amin Kibarkan Merah-Putih di Korea
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Maruf Amin memberikan pidato politiknya kepada relawan Jokowi-Maruf Amin saat kampanye di Desa Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (20/1/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA — Pertarungan gagasan kedua calon wakil presiden yang saling lempar wacana membawa Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia, kini masih berlanjut.

Cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin menyebut bahwa untuk membawa Indonesia sebagai pemain utama ekonomi halal atau syariah, mesti dilakukan secara bertahap.

Salah satunya lewat eksistensi sertifikasi halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Saya memperjuangkan halal sampai ke luar negeri, sampai ada undang-undangnya. Jadi saya melalui MUI urusan halal lebih dari 20 tahun," ujar mantan Ketua MUI ini di kediamannya, Rabu (6/1/2019).

"Namanya berjuang itu harus sabar, dari mulai sertifikasi halal. Halal tadinya dianggap sebagai hal yang volunteer, sekarang masuk kepada kewajiban," tambahnya.

Ma'ruf menambahkan bahwa UU Jaminan Produk Halal akan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri memberikan kepastian.

Ma'ruf mencontohkan, misalnya peternakan yang mulai dari makanan, vaksin, dan kandangnya tidak bercampur dengan seuatu yang haram. Ada pula Rumah Sakit, yang walaupun rumah sakit dari yayasan non-muslim, tetapi makanan dan produk obatannya muslim-friendly.

Ma'ruf menambahkan bukan hanya dalam negeri saja, tetapi banyak negara telah mengadopsi sistem jaminan halal dan sertifikasi halal MUI.

"Saya pernah meresmikan di Taiwan. Sekarang ada sertifikat halal di Taiwan. Ada pusat halal di Taiwan," ujar kiai berumur 75 tahun yang juga mantan Rais Aam PBNU ini.

"Saya pernah ke Korea, saya disambut pakai spanduk 'Welcome the General Chairman Ma’ruf Amin', ada bendera merah putih besar-besar untuk urusan halal saja," tambahnya.

Hal tersebut dinilainya merupakan sebuah prestasi, yang artinya dunia telah mengakui Indonesia sebagai pelopor sistem jaminan produk halal. Yang masih menjadi pekerjaan rumah, tinggal bagaimana produk halal dalam negeri bisa bersaing di kancah internasional.

"Makanya kata orang DPR itu MUI luar biasa.Tidak hanya menancapkan halal di Korea, tapi juga menancapkan merah-putih di Korea," ungkapnya.

Sebelumnya, cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno dalam acara Inisiatif Indonesia Menang Pusat Ekonomi Halal Dunia, Jumat (1/2/2019), menjanjikan target Indonesia berada di peringkat 5 besar negara ekonomi halal dalam lima tahun dan menjadi pusat ekonomi halal dunia dalam 10 tahun mendatang.

Seperti diketahui, menurut data State of the Global Islamic Economy Report2018/19, Indonesia berhasil naik ke peringkat 10 besar indeks Global Islamic Economy Indicator (GIEI) dengan skor 45, sama dengan Brunei. Sebelumnya, Indonesia menduduki peringkat 11 dengan skor 42.

Skor GIEI tertinggi saat ini berturut-turut ditempati Malaysia (127), Uni Emirat Arab (89), Bahrain (65), Arab Saudi (54), Oman (51), Jordan (49), Qatar (49), Pakistan (49), dan Kuwait (46).

Dari 6 aspek indikator GIEI yang dinilai, yaitu Makanan Halal, Keuangan Syariah, Pariwisata Halal, Mode Busana Halal, Media dan Hiburan Halal, serta Obat-obatan dan Kosmetik Halal, Indonesia belum bisa menduduki peringkat pertama dari salah satunya.

Sayangnya dari 6 aspek tersebut, Indonesia hanya berhasil mendapatkan peringkat terbaik di urutan ke-2 dalam aspek Mode Busana Halal, peringkat ke-4 aspek Pariwisata Halal, dan peringkat ke-10 aspek Keuangan Syariah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ma'ruf Amin

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top