Penjualan Apple Memble, Konsumen China Tetap Kesengsem Tas Louis Vuitton

Minat konsumen China untuk iPhone mungkin sudah berkurang, tetapi tak lantas rasa dahaga pembeli barang-barang mewah seperti tas Louis Vuitton mengering.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  12:11 WIB
Penjualan Apple Memble, Konsumen China Tetap Kesengsem Tas Louis Vuitton
Tas merek Louis Vuitton. - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA – Minat konsumen China untuk iPhone mungkin sudah berkurang, tetapi tak lantas rasa dahaga pembeli barang-barang mewah seperti tas Louis Vuitton mengering.

Raksasa barang mewah asal Prancis ini memberikan bukti terbaru bahwa booming permintaan barang mewah yang didorong oleh konsumen China tetap ada, setidaknya untuk saat ini.

Laporan kinerja kuartalan terbaru Louis Vuitton (LVMH) justru menunjukkan peningkatan permintaan untuk tas tangannya di negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Pada Selasa (29/1/2019), LVMH melaporkan penjualan kuartal IV/2018 yang lebih baik dari ekspektasi para analis. Tak hanya itu, perusahaan meningkatkan dividen tahunannya sebesar 20%.

Laporan yang disampaikan LVMH kontras dengan tanda-tanda kelesuan di China yang berdampak pada sejumlah perusahaan di antaranya Apple Inc., Caterpillar Inc., dan Nvidia Corp., di tengah perlambatan ekonomi dan perang dagang dengan Amerika Serikat.

Penjualan Apple turun 27% di Greater China selama kuartal liburan lalu. Pada awal bulan ini, CEO Apple Tim Cook telah memperingatkan bahwa penjualan selama kuartal tersebut akan meleset dari target.

Yang menarik, ketika pembeli di pasar China membatasi diri untuk pembelian yang bersifat duniawi, mereka masih mau membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang lebih mewah.

LVMH melihat permintaan yang kuat untuk wine dan minuman beralkoholnya di China, tetapi yang menonjol dari penjualan perusahaan pada kuartal tersebut adalah divisi fesyen dan barang-barang kulitnya, dengan kenaikan penjualan sebesar 17%. Unit itu dipandang sebagai acuan bagi rival-rivalnya seperti pemilik Gucci, Kering SA, dan Prada.

“Sejauh ini berjalan ke arah yang sangat baik,” ungkap CEO LVMH Bernard Arnault soal kinerja perusahaan.

Performa perusahaan barang-barang mewah dan konsumen masih terjaga sejauh ini. Tiffany & Co. menikmati pertumbuhan penjualan yang kuat di China dalam dua bulan terakhir 2018.

Richemont, pembuat kalung Cartier dan jam tangan Piaget, pada pertengahan Januari mengatakan bahwa konsumen-konsumen di China meningkatkan pembelian mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV, Arnault memperingatkan bahwa booming itu tidak akan berjalan tanpa batas, bahkan untuk industri yang terbiasa dengan tingkat pertumbuhan dua digit.

Minat konsumen China untuk tetap membeli barang-barang mewah tahun ini adalah kuncinya. Dalam survei yang dirilis bulan ini, sekitar separuh dari orang kaya di China, memang mengatakan masih berencana berbelanja barang-barang mewah tahun ini.

Namun ada lebih sedikit momentum di balik pertumbuhan sentimen para konsumen dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, menurut perusahaan riset pasar CSG dan perusahaan hubungan masyarakat Ruder Finn.

Beberapa pilihan utama barang mewah yang menjadi daya tarik tahun ini di antaranya adalah busana mewah, kosmetik dan produk kecantikan, serta barang-barang elektronik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple, louis vuitton

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top