Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Trump Mengalah dalam Pertarungan Govt. Shutdown di AS

Presiden AS Donald Trump yang terkenal sangat gigih dalam bernegosiasi di Gedung Putih akhirnya mengalah dalam ajang "pertarungan" penutupan pemerintah (government shutdown) pada Jumat (25/1/2019). Dia pun kalah telak secara politik di hadapan Ketua DPR AS yang baru, Nancy Pelosi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 Januari 2019  |  18:59 WIB
Papan pengumuman menyatakan gedung National Archive di Washington DC, AS ditutup selama government shutdown (penutupan pemerintah) sementara diberlakukan, Sabtu (22/12/2018). - Reuters/Joshua Roberts
Papan pengumuman menyatakan gedung National Archive di Washington DC, AS ditutup selama government shutdown (penutupan pemerintah) sementara diberlakukan, Sabtu (22/12/2018). - Reuters/Joshua Roberts
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump yang terkenal sangat gigih dalam bernegosiasi di Gedung Putih akhirnya mengalah dalam ajang 'pertarungan' penutupan pemerintah (government shutdown) pada Jumat (25/1/2019). Dia pun kalah telak secara politik di hadapan Ketua DPR AS yang baru, Nancy Pelosi.
 
Seiring dengan masyarakat AS memasuki masa government shutdown hari ke-35, Trump akhirnya mengalah dan sepakat untuk kembali membuka Pemerintahan Federal hingga 15 Februari 2019. 
 
Adapun, government shutdown tersebut telah memperlihatkan dampak terhadap kehidupan sehari-hari di Negeri Paman Sam, termasuk memengaruhi operasional perjalanan udara.
 
Oleh karena itu, Trump sepakat membuka kembali pemerintahan tanpa mendapatkan pendanaan sebesar US$5,7 miliar yang dimintanya untuk membangun tembok perbatasan dengan Meksiko. Namun demikian, dalam pidatonya di Rose Garden, Trump tidak mengakui bahwa dia mengalah. 
 
Sementara di lingkungan Gedung Putih sendiri, semua pihak telah mengetahui bahwa Trump kalah dalam 'pertarungan politik' kali ini.
 
"Mungkin dia [Trump] telah kalah dalam pertarungan jangka-pendek ini," kata salah seorang pejabat administrasi Gedung Putih, sepeeti dikutip Reuters, Sabtu (26/1/2019).
 
Sebelumnya, dalam upaya menyelamatkan pemerintahan AS, Wapres AS Mike Pence dan penasihat senior Jared Kushner menyajikan empat opsi untuk dipilih Trump. Salah satunya adalah dengan mendeklarasikan status negara gawat darurat (national emergency). Dengan begitu, Trump bisa mendapatkan dana pembangunan tembok perbatasan tanpa persetujuan Kongres AS, tapi mendapatkan jaminan dari pengadilan (court challenge).
 
Tapi, Trump tidak memilih. Pada Jumat pagi, suasana tidak pasti semakin terasa di Gedung Putih seiring dengan Trump yang merenung memikirkan langkah yang harus diambil.
 
Para pejabat Gedung Putih lainnya yang mempersiapkan acara di Rose Garden pun tidak yakin mengenai apa yang akan disampaikan oleh Trump.
 
Akan tetapi, seorang pejabat senior menyampaikan, Trump akhirnya memutuskan untuk kembali membuka pemerintahan selama tiga pekan ke depan. Selama periode tersebut, dia masih akan mengupayakan untuk membentuk kesepakatan terkait paket keamanan perbatasan.
 
Adapun salah satu faktor yang mendukung keputusan Trump adalah desakan dari pegawai yang tidak dapat melakukan pekerjaannya akibat government shutdown. Adapun shutdown juga telah membuat sebanyak 800.000 pegawai federal tidak bekerja atau bekerja tanpa dibayar.
 
"Kami tidak mengalah. Kami konsisten bahwa kami akan mengikuti proses ini. Presiden ingin mencoba sekali lagi," kata pejabat senior lainnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shutdown government shutdown
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top