Senat AS Desak Trump Hentikan Shutdown

Senat Amerika Serikat tampaknya sudah mulai gerah dengan penutupan pemerintahan secara parsial yang berlangsung sejak 22 Desember 2018 akibat tidak tercapainya kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dengan Kongres.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  21:22 WIB
Senat AS Desak Trump Hentikan Shutdown
Ilustrasi - Bloomberg
Bisnis.om, JAKARTA - Senat Amerika Serikat tampaknya sudah mulai gerah dengan penutupan pemerintahan secara parsial yang berlangsung sejak 22 Desember 2018 akibat tidak tercapainya kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dengan Kongres.
Seorang senator dari Partai Republik yang cukup dekat dengan Trump mendukung rencana penghentian shutdown untuk sementara dan kembali membuka pemerintahan federal sambil meneruskan diskusi yang dapat memenuhi kepentingan Trump.
Oposisi dari Partai Demokrat dalam Kongres AS menolak permintaan Trump untuk mengesahkan tambahan anggaran sebesar US$5,7 miliar yang di ambil dari pajak negara untuk membangun tembok perbatasan AS - Meksiko.
Demokrat juga menolak untuk melakukan negosiasi lebih lanjut hingga pemerintahan kembali beroperasi, hingga hari ini Shutdown parsial pemerintahan AS telah berlangsung selama 25 hari.
"Sebelum dia [Trump] memilih opsi legislatif, saya pikir kita sudah menuju kesana, saya mendesak mereka untuk segera membuka kembali pemerintah selama beberapa waktu, mungkin sekitar tiga pekan, sambil terus melakukan negosiasi," ujar Ketua Komisi Yudisial di Senat AS Lindsey Graham kepada Fox News Sunday, seperti dikutip Reuters pada Senin (14/1).
Graham melanjutkan, jika Trump dan kongres tidak berhasil mencapai kesepakatan maka Trump sebaiknya menyatakan keadaan darurat nasional sebagai cara agar anggaran pembangunan tembok dapat disahkan, namun cara ini bukanlah langkah yang umum diambil oleh Partai Republik.
Shutdown kali ini telah merugikan setidaknya 800.000 pekerja federal, termasuk para pengendali lalu lintas udara dan petugas keamanan bandara, yang tidak dapat menerima gaji hingga menghentikan sejumlah layanan kantor pemerintahan di seluruh negeri.
Trump terus menyalahkan Demokrat yang tidak mampu mencapai kesepakatan dalam negosiasi anggaran tersebut.
"Saya terus menunggu di Gedung Putih. Demokrat sibuk mengerjakan hal lain padahal di Washington semua orang menunggu kejelasan gaji mereka. Mereka [Demokrat] justru bersenang-senang tanpa melakukan tugasnya," ujar Trump melalui akun twitternya, Minggu (13/1).
Drew Hammill, Wakil Kepala Staf untuk Ketua DPR dari Partai Demokrat Nancy Pelosi, merespon melalui twitter bahwa Pelosi bekerja sepanjang pekan di Capitol.
Sementara itu dalam hasil jajak pendapat terbaru sebagian besar orang Amerika justru mengarahkan jari mereka kepada Trump sebagai pihak yang harus disalahkan.
Jennifer Lawless, seorang profesor bidang politik di University of Virginia mengatakan dirinya percaya bahwa perseteruan antara Trump dan Republik tidak akan menguntungkan siapapun namun justru merugikan para pekerja federal, buruh, pengunjung bandara, dan turis.
"Shutdown ini nyata sementara rencana dinding Trump hanya sebuah hipotesa. Pada satu titik Republik akan sadar bahwa dampak shutdown dirasakan langsung oleh masyarakat yang tidak dapat menerima gaji dan mengakses layanan pemerintah," ujar Lawless.
Di sisi lain Demokrat tetap bersikukuh untuk menolak penambahan anggaran senilai US$5,7 miliar jika Trump menginginkan shutdown dihentikan. 
Senator Tim Kaine mengatakan, proyek pembangunan tembok perbatasan akan memakan dana setidaknya US$23 miliar, adalah proyek buatan sebelumnya dijanjikan akan menggunakan dana dari pemerintah Meksiko, bukan menggunakan pajak negara.
"Segera hentikan Shutdown dan selesaikan semuanya dengan jelas," ujar Senator Dick Durbin dari Partai Demokrat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
shutdown

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top