Prancis Ancam Tangkap Pengunjuk Rasa yang Hadiri Pawai Kelompok Rompi Kuning

Pemerintah Prancis mengancam akan menangkap pengunjuk rasa damai sekali pun jika terlibat dalam pawai kelompok Rompi Kuning. 
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Januari 2019  |  19:57 WIB
Prancis Ancam Tangkap Pengunjuk Rasa yang Hadiri Pawai Kelompok Rompi Kuning
Paris, Prancis, rusuh akibat demonstrasi yang dipicu kenaikan harga BBM. - Reuters/Christian Hartmann

Bisnis.com, PARIS - Pemerintah Prancis mengancam akan menangkap pengunjuk rasa damai sekali pun jika terlibat dalam pawai kelompok Rompi Kuning. 

Menteri dalam negeri Prancis pada Jumat (11/1/2019) mengatakan pemrotes damai akan dianggap "terlibat", jika mereka menghadiri pawai Rompi Kuning yang berubah rusuh.

Di dalam satu wawancara dengan cabang media digital yang berpusat Prancis Brut di Facebook, Christophe Castaner juga mengatakan mereka yang menyerukan protes dan kerusuhan mesti dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Ia mengecam mereka yang "bersembunyi" tanpa menyebutkan nama.

Pernyataan Castaner dikeluarkan saat Prancis menghadapi pekan kesembilan protes.

Sebanyak 80.000 personel polisi direncanakan digelar pada Sabtu untuk menghadapi kemungkinan demonstrasi besar oleh gerakan Rompi Kuning, demikian laporan kantor Berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu siang.

Protes Rompi Kuning, yang dimulai sebagai reaksi atas kenaikan pajak bahan bakar dan berkembang menjadi protes terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron, telah berlangsung terus kendati pemerintah mengeluarkan seruan agar kegiatan tersebut dihentikan.

Sejak 17 November, ribuan pemrotes dengan mengenakan rompi kuning terang --sehingga mereka dijuluki Rompi Kuning-- telah berkumpul di berbagai kota besar Prancis, termasuk Ibu Kotanya, Paris, untuk memprotes kenaikan pajak bahan bakar kontroversial yang dilancarkan Macron dan situasi ekonomi yang bertambah parah.

Demonstran menyelenggarakan protes dengan menghalani jalan dan lalu-lintas selain menutup jalan masuk dan ke luar banyak stasiun pompa bensin serta pabrik di seluruh negeri itu.

Pemrotes, yang biasanya tinggal di daerah pinggir kota akibat tingginya sewa rumah dan apartemen di kota besar, telah menyeru Macron agar memangkas pajak bahan bakar dan meringankan kesulitan ekonomi mereka.

Macron, yang menghadapi tekanan dari protes tersebut, mengumumkan kenaikan upah minimum dan juga membatalkan kenaikan pajak bahan bakar.

Sedikitnya 10 orang telah tewas, dan lebih dari 5.500 orang ditahan serta lebih dari 1.000 orang lagi cedera akibat protes itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prancis

Sumber : Antara/Anadolu-OANA

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top