Mendikbud: Ini Tradisi Keluarga yang Membuat Tumbuh Kurang Percaya Diri

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan banyak tradisi keluarga yang membentuk karakter si anak memiliki rasa kurang percaya diri.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 23 November 2018 12:33 WIB
Mendikbud Muhadjir Effendy pada acara pelepasan Kontingen Indonesia Worldskills Asia ke Abu Dhabi di Gedung A Lantai 3, Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/2018). - Bisnis/Nur Faizah

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan banyak tradisi keluarga yang membentuk karakter si anak memiliki rasa kurang percaya diri.

"Kita punya problem sebetulnya untuk di Indonesia ini karena pembentukan karakter percaya dirinya kurang, jadi banyak tradisi yang kita warisi itu membuat kita [menjadi] kurang percaya diri," ungkap Muhadjir saat memberikan arahan kepada kontingen Indonesia untuk Worldskills Asia 2018 di Gedung A Lantai 3, Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/2018).

Muhadjir menuturkan setelah dia mengevaluasi dirinya sendiri, dia menemukan fakta bahwa penanaman nilai-nilai di dalam keluarga yang diwarisinya membuat dirinya memiliki karakter yang kurang percaya diri.

"Dulu misalnya kalau ada tamu [datang ke rumah] lalu saya ikut nimbrung, nanti tamunya pulang saya dicubit sama ibu saya, dianggap tidak sopan. Kemudian makan juga gitu, kalau diajak pergi makanan saya habis, itu enggak boleh, [katanya] itu tidak menunjukkan bentuk ke-perwiraan. Jadi, harus diturahkan [disisakan] sedikit, hal-hal seperti sangat terkontrol yang menurut saja kadang-kadang membuat kita [jadi] kurang percaya diri," tuturnya.

Sehingga kini Muhadjir selalu menekankan ada 5C yang harus dibangun untuk membentuk karakter anak bangsa yakni Critical Thinking, Creativity and Innovation, Communication Skill, Collaboration dan Confidence.

"Confidence ini tidak kalah penting dari 4C yang ada," katanya.

Muhadjir menilai rasa percaya diri akan menumbuhkan self efficacy atau afikasi diri dapat mendorong orang untuk bekerja lebih keras.

"Jadi orang mampu belum tentu merasa dirinya mampu, nah merasa mampu ini penting itu namanya self efikasi, banyak orang yang mampu tetapi tidak percaya diri kalau dirinya mampu," kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan lebih baik percaya diri mampu mengerjakan daripada memiliki kemampuan untuk mengerjakan atau mencapai sesuatu namun tidak memiliki rasa percaya diri sama sekali.

"Jadi antara kemampuan dan perasaan mampu [untuk mencapai target] itu harus sinkron," kata Muhadjir.

Tag : pendidikan
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top