Ada Graha Gorontalo di KBRI Wellington, Tantowi Berharap Ekspor Terus Meningkat

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Selandia Baru terus berbenah untuk menjadi ujung tombak hubungan ekonomi kedua negara.
Arif Budisusilo | 10 November 2018 19:55 WIB
Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo berpose dengan latar belakang ilustrasi 7 Presiden RI dari Soekarno hingga Joko Widodo. JIBI - BISNIS/Arif Budisusilo

Bisnis.com, WELLINGTON - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Selandia Baru terus berbenah untuk menjadi ujung tombak hubungan ekonomi kedua negara.

Setelah sukses menggelar konser persahabatan bertajuk The Symphony of Indonesia, Jumat (9/11/2018) malam, Dubes Tantowi Yahya pada Sabtu (10/11/2018) siang meresmikan sejumlah ruangan utama KBRI sebagai "Rumah Indonesia".

Peresmian itu dihadiri oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo bersama sejumlah anggota dewan, Bupati Bone Bolango Hamim Pao, serta sejumlah pelaku usaha. Hadir pula pengusaha asal Gorontalo Rachmat Gobel, pemilik Panasonic Gobel Indonesia.

Salah satu bagian "Rumah Indonesia" yang diresmikan adalah Graha Gorontalo, yang berlokasi di halaman depan KBRI.

Graha Gorontalo adalah kontribusi Rachmat Gobel, yang diharapkan dapat menjadi etalase bagi peningkatan komoditas ekspor Indonesia. Tidak hanya dari Gorontalo dan Sulawesi, melainkan dari seluruh Indonesia.

Di dalam Graha Gorontalo itu terdapat aktivitas promosi kopi organik asal Bone Bolango serta sejumlah produk lainnya. 

Ke depan, produk dari Gorontalo termasuk kain Karawo, tenun khas Gorontalo, dapat pula dipamerkan di tempat tersebut.

Menurut Dubes Tantowi, secara keseluruhan, Graha Gorontalo akan menjadi etalase bagi produk-produk ekspor Indonesia, tidak hanya dari Gorontalo dan Sulawesi.

Karena itu, turut dipromosikan pula radio merek Cawang yang berdisain klasik, yang khusus ditujukan untuk pasar ekspor.

Selain Graha Gorontalo, pada kesempatan itu juga diresmikan Ruang Papua.

Ruang Papua, menurut Tantowi Yahya, diharapkan dapat menjadi "Serambi Indonesia" bagi Selandia Baru. 

Peresmian Ruang Papua disaksikan pula oleh sejumlah pelajar dan mahasiswa asal Papua, yang belajar di Selandia Baru.

Ruangan itu diisi dengan sejumlah produk Papua serta audio visual yang menggambarkan Papua. Diharapkan, Ruang Papua itu akan menjadi ujung tombak promosi ekspor ke Selandia Baru.

"Kami ingin menjawab persepsi keliru bahwa Papua selama ini dianggap ditelantarkan. Di KBRI (Wellington), Papua menjadi serambi Indonesia," kata Tantowi.

Untuk memperkuat fungsi gedung KBRI sebagai "Rumah Indonesia", Dubes Tantowi juga membangun Ruang Sriwijaya.

Ruangan ini merepresentasi kekhasan produk dari Sumatera, khususnya Sumatra Selatan.

Dubes Tantowi juga berencana menyulap salah satu ruangan di KBRI dengan "Ruang Jawa", yang akan melengkapi fungsi sebagai "Rumah Indonesia".

Pengusaha Rachmat Gobel mengatakan fungsi KBRI sebagai ujung tombak pemasaran telah mulai dirintis sejak dirinya menjabat sebagai Menteri Perdagangan di awal pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Karenanya, KBRI perlu menyediakan ruang promosi yang layak. Hal itu akan memudahkan pengusaha setempat menjalin kerjasama bisnis, karena bisa mendapatkan gambaran beragam produk Indonesia.

Pengusaha Rachmat Gobel bersama Bupati Bone Bolamo Hamim Pao

Tantowi menambahkan, ruangan-ruangan dengan nama wilayah-wilayah Indonesia di KBRI Wellington akan menjadi tempat pemasaran beragam produk Indonesia yang berpotensi masuk ke pasar Selandia Baru.

Perdagangan Meningkat

Tantowi sebelumya mengatakan kepada Bisnis, nilai perdagangan Indonesia dengan Selandia Baru terus meningkat.

Saat ini, nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru telah mencapai NZ$1,8 miliar, naik dari NZ$1,4 miliar dibandingkan dengan saat dirinya mulai menjabat sebagai Dubes pada awal tahun 2017 silam.

Dia optimistis pada akhir tahun depan atau awal 2020, saat mengakhiri tugas sebagai Dubes untuk periode pertama, nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru akan meningkat menjadi NZ$3 miliar.

"Ini mendekati target yang diharapkan dari Bapak Presiden (Jokowi)," ujarnya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi menargetkan nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru mencapai sedikitnya NZ$4 miliar pada 2024. Nilai itu setara dengan US$2,7 miliar.

Tantowi menjelaskan dari total perdagangan tersebut, sekitar 40% adalah ekspor dan 60% adalah impor. Indonesia memang masih membukukan defisit perdagangan dengan Selandia Baru.

Ke depan, Tantowi optimistis ekspor indonesia akan terus meningkat, terlebih dengan sejumlah upaya promosi perdagangan yang dilakukan KBRI dan stakeholders terkait.

Menurut dia, prospek ekspor Indonesia ke Selandia Baru akan terus membaik mengingat potensi ekspor non komoditas masih besar.

Apabila sebelumnya porsi ekspor terbesar adalah ampas kelapa sawit untuk bahan pakan ternak, saat ini produk ekspor Indonesia makin beragam seperti alat pertanian, ban mobil, dan produk konsumer seperti Kopi Mandailing.

Indonesia sempat mengalami gangguan saat terjadi kampanye terhadap perkebunan kelapa sawit yang dianggap mengganggu lingkungan. Akibatnya, ekspor ampas kelapa sawit juga terganggu.

Selain itu, potensi ekspor Indonesia lainnya adalah pupuk dan produk kimia untuk pertanian.

Namun, Selandia Baru dikenal menerapkan pertanian berkelanjutan (sustainable farming), sehingga standard produk juga dituntut sangat ketat.

Karena itu, Dubes Tantowi berharap kepada perusahaan swasta di Indonesia yang memproduksi alat pertanian, termasuk Astra, lebih agresif dalam melakukan penetrasi pasar ke Selandia Baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, selandia baru, rachmat gobel

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top