Menenun Masih jadi Andalan Pendapatan Perempuan NTT

Menenun di Provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata masih menjasi andalan perempun untuk mencari nafkah termasuk untuk biaya pendidikan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 15 Oktober 2018 23:41 WIB
Eda Mariace, Perajin kain tenun NTT

Bisnis.com, JAKARTA -- Menenun di Provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata masih menjadi andalan perempun untuk mencari nafkah termasuk untuk biaya pendidikan.

Sebut saja Eda Mariace Faot (26), lulusan sekolah guru yang berasal dari Kecamatan Batuputih, di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Eda bercerita kepada Bisnis, sejak kelas 3 SD sudah mulai menenun. Maklum saja, orangtua Eda adalah petani di desa yang penghasilannya tidak tetap.

Eda mengaku  mulai belajar pertama kali cara menggulung benang di batu kecil. Ada pun cara memintal benang ke batu itu juga memerlukan teknik gerakan khusus.

"Mulai itu ke SMP sudah mulai saya menenun, lalu saya jual untuk bayar sekolah," terang Eda kepada Bisnis, Senin (15/10/2018).

Ada pun urutan belajar menenun dimulai dari memintal benang, lalu mulai menenun selendang kecil, hingga akhirnya menenun satu kain sarung.

Eda menjelaskan untuk satu selendang saja, dia bisa menghasilkan Rp250.000 per lembar. Sementara untuk ukuran kain sarung yang lebih dari 1,5 meter itu bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.

"Kalau selendang biasa buat seminggu, kalau kain bisa berbulan-bulan," kata Eda sambil mempraktikkan cara menenun ikat kepada para pengunjung Wallace Week 2018 di Perpustakaan Nasional.

Dia mengungkapkan masa-masa kecil dia mulai menenun adalah pada jam-jam sepulang sekolah dan seusai makan siang. Alhasil dia cenderung belajar hanya saat ada tugas pekerjaan rumah. Jika tidak, Eda akan memilih untuk melanjutkan tenun bahkan sampai malam.

Dia mengatakan, dia memang tertarik mengembangkan motif-motif tenun TTS. Maka dia berharap tenun ikat ini terus dilestarikan karena ini masih menjadi bagian dari ritual adat.

Perempuan bungsu dari lima bersaudara ini mengaku hampir semua anak dalam keluarga bisa lulus sekolah sampai S1 dari hasil menenun sang ibu.

"Kakak saya yang pertama itu kapten, itu juga bisa sekolah hasil Mama saya tenun lalu pergi jual ke pasar," terang Eda.

Yovita Meta Bastian, pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Yayasan Tafean Pah mengatakan saat ini guna memperkuat tenun sebagai penggerak ekonomi keluarga, pemerintah daerah perlu memberikan perhatian pada semua jenis motif di seluruh NTT.

"Mungkin pengerjaan hampir sama, cuma beda ciri khas motif masing-masing. Macam di Sabu itu khas motif beda dengan ciri khas motif di Biboki atau di Kabupaten TTU, atau di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Motif itu ada beda, tidak sama. Kalau orang lihat, orang tahu, ini dari Kabupaten TTU, dan dari suku Biboki, ini langsung tahu darimana," jelas Yovita kepada Bisnis.

Yovita yang akrab disapa Mama Yovita berharap pemerintah perlu mendorong tenun ikat sebagai industri kreatif melalui bentuk pengesahan setiap motif dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Ini aset negara, saya harap bisa berjalan karena kita takut banyak motif hilang maka kita inventarisir motif kain. Kemudian kita minta penenun yang sudah tua dan bagus siapkan motif bagus, kainnya kita simpan untuk generasi selanjutnya," ujar penerima Prince Clause Awards 2003.

Selama ini pemerintah hanya melakukan pengakuan motif dari daerah dengan pengelompokkan yang sangat besar. Padahal, menurut Yovita, satu daerah saja bisa memiliki motif yang sangat beragam.

Dia menegaskan, pengesahan atas motif adalah apresiasi terhadap kekayaan budaya dan kreativitas setiap individu penenun. Oleh sebab itu pemerintah perlu memberikan HAKI atas tenun sesuai daerah asal secara detail dan tak lupa menyertakan nama penenun sebagai bentuk pengakuan.

Misalnya saja di Biboki ada 46 motif tenun ikat. Kemudian motif Buna ada 20 jenia, begitu juga motif Insana, motif Sotis, dan motif Miamafo. Jika tidak, Yovita khawatir kekayaan motif ini akan diklaim oleh negara lain. Yovita bahkan mengaku pernah membuktikan motif Biboki yang dikliam di negara lain sebagai motif NTT.

"Kini kami mendampingi para mam di Biboki Selatan dan Utara, mereka punya banyak kerajaan dulunya maka banyak motif, jadi kita inventarisir. Karena takut kebanyakan ibu-ibu sudah tua, maka sebelum mereka meninggal kita yang urus," tuturnya.

Tag : ntt, tenun ikat
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top