Gempa Sulteng: Kisah Operasi Bedah Pertama Pasca Gempa di RS Undata Palu

Tim gabungan dari Public Savety Center (PSC) 119 RS Wahidin dan Sulawesi Selatan, IDI Makassar, dan UNHAS serta Persatuan Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) telah melakukan operasi fraktur di RS Undata Palu pada Minggu (30/9/2018).
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 04 Oktober 2018 19:11 WIB
Sejumlah pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. - ANTARA FOTO/HO/BNPB Sutopo Purwo Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Tim gabungan dari Public Savety Center (PSC) 119 Rumah Sakit Wahidin dan Sulawesi Selatan, IDI Makassar, dan UNHAS serta Persatuan Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) telah melakukan operasi fraktur di RS Undata Palu pada Minggu (30/9/2018).

Dr. Sakti, koordinator PABOI menyebutkan bahwa tim gabungan tersebut sudah sampai di sana pada Sabtu, (29/9/2018).

“Kami langsung survei pasien-pasien yang butuh segera tindakan operasi dan kamar operasi yang bisa dipakai. Kondisi kamar operasi memprihatinkan terutama karena masalah listrik, dan bahan bakar, jadi kami mencoba mengaktifkan kamar operasi dengan menggunakan genset seadaanya,” kata dr. Sakti dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis dari Kementerian Kesehatan.

Sakti menegaskan bahwa pasien-pasien yang mereka tangani memang butuh untuk segera dioperasi. Bila tidak akan menyebabkan sepsis dan syok hipovolemik juga risiko terburuknya bisa menyebabkan kematian pada pasien.

“Hari pertama [Sabtu 29/9/2018] kami berhasil mengoperasi pasien dengan alat seadanya dan monitor anastesi,” tuturnya.

Umumnya pasien adalah pasien dengan fracture terbuka, dislokasi, yang membutuhkan debridemant, amputasi dan external fixasi.

"Selain itu, ada pula pasien yang akan melahirkan dengan operasi sectio," lanjutnya.

Hingga Senin (1/10/2018), tim medis gabungan sudah mengoperasi lagi 20 pasien. Adapun untuk pasien yang dirawat, banyak yang mengalami dehidrasi karena kepanasan.

“Beberapa pasien dirawat pula di bawah pohon,” lanjut Sakti.

Sementara itu, Kemenkes telah menyiagakan 2 ton makanan tambahan, terdiri dari 1 ton makanan tambahan untuk Balita dan 1 ton untuk ibu hamil.

Tag : Gempa Palu
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top