Aldi Novel Adilang, "Berpetualang" di Laut Lepas Selama 49 Hari

Mungkin tidak ada yang pernah membayangkan akan "hilang" di laut lepas selama berminggu-minggu. Tanpa persediaan makanan dan minuman yang mencukupi, tanpa teman, tanpa alat komunikasi yang mumpuni.
Annisa Margrit | 25 September 2018 13:52 WIB
Aldi Novel Adilang ketika ditemukan di rompong di perairan Guam oleh kapal berbendera Panama. - Dok. KJRI Osaka

Bisnis.com, JAKARTA -- Mungkin tidak ada yang pernah membayangkan akan "hilang" di laut lepas selama berminggu-minggu. Tanpa persediaan makanan dan minuman yang mencukupi, tanpa teman, tanpa alat komunikasi yang mumpuni.
 
Kenyataannya itulah yang terjadi pada Aldi Novel Adilang. Remaja berusia 19 tahun yang bekerja sebagai penjaga lampu di rompong (rumah rakit di laut) di perairan Wori, Manado itu hanyut terbawa arus ketika tali tambat rumah rakitnya lepas akibat angin kencang.
 
Petualangan Aldi di laut lepas pun dimulai. Layaknya Life of Pi, kisah tentang seorang remaja pria asal Pondicherry, India yang terjebak di samudera bersama seekor harimau Bengal bernama Richard Parker.
 
Bedanya, Aldi berada di atas rumah rakitnya seorang diri. Tidak ada Richard Parker yang menemaninya seperti Piscine Molitor Patel, nama lengkap Pi.

Dok. KJRI Osaka

Life of Pi adalah sebuah novel karya Yann Martel, yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara ternama Ang Lee. Film itu berbuah Piala Oscar bagi Lee, untuk kategori Sutradara Terbaik.

Terombang-ambing selama berminggu-minggu membuat stok makanan Aldi, termasuk beras, habis. Untuk bisa bertahan hidup, dia pun menangkap ikan dan membakarnya dengan menggunakan kayu dari rumah rakitnya.
 
Untuk bisa tetap terhidrasi, air laut menjadi satu-satunya sumber air yang bisa dikonsumsi Aldi.
 
Bedanya lagi, dia membawa radio sehingga bisa mencari bantuan. Meski demikian, panggilan radio yang dikirimnya tidak serta merta mendatangkan bantuan.

Dok. KJRI Osaka

Aldi juga mengaku sering ketakutan dan menangis. 
 
Tak terasa 49 hari dia mengapung di lautan. BBC melansir sebenarnya ada lebih dari sepuluh kapal yang berlayar melewatinya. Namun, tidak ada yang berhenti menolongnya entah karena memang tidak melihat Aldi atau alasan lain.
 
Sampai akhirnya, pada 31 Agustus 2018, ada kapal yang menangkap sinyal radio dari Aldi. Dia ditemukan oleh kapal berbendera Panama MV Arpeggio yang tengah menuju Jepang. 
 
Konsulat Jenderal RI (KJRI) Osaka mengungkapkan ketika ditemukan, Aldi sudah berada di perairan Guam atau 125 kilometer (km) dari pesisir utara Manado. Sebagai gambaran, Guam adalah sebuah pulau di bagian barat Samudera Pasifik dan merupakan teritori milik AS.

Kapten kapal lalu menghubungi penjaga pantai Guam, yang kemudian menginstruksikan agar Aldi langsung dibawah ke Jepang. Setelah kapal bersandar, dia langsung diperiksa untuk memastikan kondisi kesehatannya. 

Dok. KJRI Osaka
 
Untungnya, Aldi dinyatakan sehat dan bisa segera kembali ke Indonesia. Dia dijemput KJRI Osaka pada 6 September 2018 di Tokuyama, Prefektur Yamaguchi. 
 
Dua hari kemudian, Aldi diterbangkan ke Manado untuk berkumpul kembali dengan keluarganya di Wori. Petualangannya hanyut seorang diri di laut lepas selama lebih dari sebulan pun berakhir.

Tag : WNI hilang
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top